Upacara bendera merupakan hal rutin yang dilaksanakan setiap Senin pagi bagi sebagian sekolah dasar dan menengah di Indonesia. Tapi di tingkat perguruan tinggi, hal itu bisa jadi merupakan kegiatan yang istimewa. Di kampus ITS saja, setiap tahun hanya menyelenggarakan upacara tiga kali, Hardiknas, Proklamasi 17 Agustus, dan peringatan hari jadi ITS yang jatuh setiap tanggal 10 Nopember.
Pukul 07.00 pagi, hujan cukup deras yang mengguyur kampus ITS tak kunjung reda. Tak pelak lapangan upacara yang terletak di depan gedung perpustakaan pun menjadi becek. Dengan sigap petugas protokoler memindahkan lokasi upacara peringatan Hardiknas 2010 ke plasa dr Angka. "Yah, mau gimana lagi. Nggak mungkin kalau dipaksakan di lapangan," kata Agung Pamujo SSos, selaku fungsionaris humas dan protokoler ITS ini.
Dalam sambutannya, rektor ITS menyampaikan amanat Mendiknas Prof Mohammad Nuh DEA. Menurut menteri yang juga mantan rektor ITS itu, terdapat tiga makna penting di setiap peringatan hari besar nasional. Pertama sebagai momentum untuk merenung dan refleksi terhadap langkah panjang yang telah dilalui bangsa Indonesia. Kemudian sebagai upaya introspeksi diri dari apa yang sedang kita lakukan untuk menatap masa depan yang lebih cerah. Yang terakhir, bagaimana kita memperspektifkan apa yang telah dan sedang dilakukan dalam upaya mencerdaskan bangsa secara utuh.
Upacara berlangsung singkat dan khidmat, hanya lima belas menit tanpa pengibaran bendera. Segenap peserta yang terdiri dari dosen, karyawan dan mahasiswa dengan tertib mengikuti jalannya upacara. "Walaupun seadanya, tapi sangat terasa feel-nya ketika (lagu) Indonesia Raya dikumandangkan tadi," ungkap Astuti, karyawati perpustakaan yang mengaku sudah bertahun-tahun tidak mengikuti upacara itu. (ian/nrf)