Hadapi MEA, Indonesia Perlu Manfaatkan Media Baru

Published on
By

Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) ITS, penyelenggara acara memang sengaja mengundang Dennis Adishwara, pemain film Ada Apa Dengan Cinta dan Eno Bening untuk menyoal perkara yang satu ini. Pergeseran media konvensional seperti televisi dan radio ke media baru bernama Internet pun menjadi menu utama seminar ini.

Seperti disinggung Eno di awal acara, ia mengungkapkan sudah menjadi kebiasaan orang Indonesia untuk berselancar di internet. ”Indonesia adalah penyumbang penonton no. 2 terbesar di dunia, tapi nontonnya Rihanna, Katy Perry, bukan Si Unyil.  Kita di sana sebagai konsumen, sebagai market,” jelasnya.
Hal tersebut pun ditakutkan Eno lantaran era MEA 2015 yang sudah semakin dekat. Menurutnya, jika Indonesia terus seperti itu, maka hanya akan menjadi konsumen ketika negara-negara luar telah sukses dalam produksi di bidang industri kreatif.
Sementara itu, Dennish Adishwara menjelaskan bahwa di Amerika Serikat sendiri, ada sekitar enam miliar dollar transaksi dalam industri online video dengan tren yang selalu naik. Ia juga menambahkan pada tahun-tahun setelah ini, dunia pertelevisian akan ditinggalkan orang-orang secara perlahan. ”Orang-orang akan lebih memilih menonton online video ketimbang menonton TV,” tuturnya.
Bahkan ia memprediksi, di tahun 2016 iklan di TV akan menurun 10 persen setiap tahunnya dan 83 persen internet akan diisi oleh traffic video. Saat ini pun, lanjutnya, per satu menit di dunia nyata bisa sama dengan 300 jam video yang diunggah ke laman Youtube. ”Tentunya hal ini akan menjadi ladang yang subur bagi mereka yang bisa kreatif di sosial media, terutama Youtube,” tambahnya.
Melihat hal ini, maka diungkapkannya para content creator Indonesia harus memanfaatkan media internet sebagai lahan untuk mengembangkan kreativitas mereka. Hal ini dikarenakan biaya produksi dan distribusi yang mahal di televisi, maka tentunya media internet adalah media yang sangat menjanjikan bagi content creator seperti animator Indonesia. Ia meyakini sudah saatnya animasi asli Indonesia berkembang dan dapat bersaing dengan animasi-animasi luar negeri. (n18/man)
×