Menurutnya, para mahasiswa ITS harus mampu mengembangkan nilai tambah dari sumber daya alam yang ada melalui teknologi. "Cucu-cucuku (BJ Habibie menyebut para mahasiswa ITS) harus lebih baik dari eyang (maksudnya, BJ Habibie sendiri), sebab UKM itu unggul dalam menyerap tenaga kerja hingga 99,46 persen, sedangkan industri unggul dalam pendapatan hingga 44,9 persen," katanya.
Penggagas pesawat terbang Nurtanio CN-235 ini mengharapkan mahasiswa ITS mampu merebut "wahana jam kerja" dengan mengembangkan teknologi industri di bidang pertanian, agar penyerapan tenaga kerja dan pendapatan yang tinggi sama-sama diraih.
"Cucu-cucuku bisa seperti eyang, bahkan bisa lebih baik dari eyang. Yang penting, cucu-cucuku harus konsisten, dan cinta kepada apa yang di dekatnya, baik cinta keluarga, bangsa, negara, maupun pekerjaan," katanya.
Mantan Menristek ini menceritakan prestasi yang diraihnya, termasuk penghargaan 50 tahun ICAO (organisasi penerbangan sipil internasional di bawah naungan PBB).
"Kita adalah keturunan para pejuang bangsa. Yang namanya pejuang tidak akan berhenti hingga sukses, dan dia berbuat tanpa memikirkan apa yang akan diperoleh. Kota ini merupakan kota pejuang yang hanya mengenal pilihan, merdeka atau mati," katanya.
Oleh karena itu, BJ Habibie berharap ITS menjadi pusat keunggulan yang mampu mengembangkan pertanian, kemaritiman, kehutanan, perikanan, dan sebagainya, dengan sentuhan teknologi.
"Kita sudah pernah membuat CN-235 dan N-250 di bidang dirgantara, kemudian di bidang maritim Caraka Jaya I, II, dan III. Kita juga mampu membuat kapal ikan Mina Jaya, kapal barang dan kontainer Palwobuono, dan kapal layar kontainer Maruto Jaya. Artinya, kita memiliki kemampuan," katanya.(Ant/BEY)