Habibie memulai orasi ilmiahnya dengan sebuah cerita, 30 tahun tidak berkunjung ke ITS membuat ia sama sekali tidak mengenali ITS. Ketika hampir mendekati gedung Grha Sepuluh Nopember, ia berdecak, ”Itu apa? Kok kayak tumpeng,” yang segera dijawab oleh ajudannya bahwa itulah ITS.
Menurut Habibie, semua peserta sidang terbuka Dies Natalis ke 52 ITS yang ada di hadapannya adalah para keturunan pejuang. Sedangkan beliau, adalah eyangnya. Mewakili para pejuang ITS terdahulu, Habibie ingin menyampaikan atas nama eyang-eyang lain yang tidak sempat atau tidak bisa menyampaikannya. ”Anda adalah generasi penerus baik tingkat anak, maupun tingkat cucu,” tegasnya.
Khusus untuk para cucu alias pemuda yang kini berstatus sebagai mahasiswa, Habibie menyampaikan pesannya tersendiri. Pukul 10.00 di Chicago, para tokoh dirgantara seluruh dunia yang tergabung dalam organisasi bernama IKEO sedang menggelar rapat koordinasi. Mereka sedang memutuskan siapa orang yang pantas menerima penghargaan IKEO yang setara dengan 50 gold medal. Setelah berdiskusi, mereka memutuskan satu nama, yakni BJ Habibie.
Yang ia tanyakan kepada para peserta ialah, pada waktu IKEO didirikan tersebut mereka umur berapa, sedang berada di mana, dan tengah melakukan apa. Ketika itu Habibie sedang berumur delapan tahun dan tinggal di perbatasan antara Pare-pare dan Makassar. Mendadak ada seseorang yang mengatakan kepadanya bahwa ia akan dapat membuat sesuatu yang besar. ”Apa yang saya alami bisa dialami oleh anda, yang paling penting harus konsisten dan setia serta selalu mencintai sesama,” tuturnya.
Arti Pahlawan di Hari Pahlawan
Habibie mengartikan pahlawan sebagai orang yang mau berjuang dan berkorban untuk kesejahteraan rakyatnya. Jiwa pahlawan ada di kota Surabaya. Sebab pada tanggal 10 November 1945, para pejuang bersatu tanpa memandang pluralisme. Mereka hanya berjuang untuk bangsa dan meyakini satu hal, merdeka atau mati. Ia pun turut berharap para generasi muda meneruskan perjuangan para eyangnya. ”Mereka mewarisi jiwa pejuang eyang-eyangnya,” tandasnya.
Sementara itu, Habibie pun berharap kepada ITS yang kini berada dalam ujung tombak dari perkembangan teknologi benua maritim Indonesia agar tidak pernah tidur. Sebab, ia adalah ruh yang harus terus melaksanakan sinergi antar pulau, dan mengolah ikan yang melimpah. ”Semua itu dilaksanakan atas nama bangsa,” terangnya.
Untuk Indonesia, Habibie ingin negara ini memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang jiwa juangnya tinggi. Yang tidak boleh hanya mengandalkan mimpi, bahkan ia menyatakan tidak setuju orang mengatakan mimpi, karena mimpi akan hilang ketika seseorang bangun. ”Yang kita perjuangkan adalah wawasan yang harus terus berkembang,” tutupnya. (fin/esy)