Gerakan ITS Cinta Subuh Kembali Hadir

Published on
By

Gerakan yang pertama kali dicetuskan Prof Ir Joni Hermana MScES PhD, Rektor ITS ini memang dibuat karena beberapa alasan. Diantaranya seperti salah satu faktor dilapangkannya rezeki, menjaga diri sebagai seorang muslim, pahala serupa dengan shalat semalam suntuk, tolok ukur keimanan, dan penyelamat dari api neraka.

”Apalagi ada hadits yang menyebutkan bahwa shalat subuh yang lebih baik daripada dunia dan seisinya,” tambah Joni.

Gelaran yang di-launching saat pelaksanaan Gerigi (Gerakan Integralistik) 2015 ini pun rutin dilakukan setiap bulannya dengan mendatangkan pembicara yang berbeda-beda. "Gerakan ini pun dicanangkan salah satunya guna membangun masyarakat rabbani. Selain mahasiswa akan sukses di dunia mahasiswa juga sukes akhirat," ujar Guru Besar Jurusan Teknik Lingkungan ini.

Dalam pelaksanaannya, Syafiq, sang pemateri memaparkan mengenai renungan setelah salam meliputi apa yang kita baca dan yang patut kita renungkan untuk perbaikan diri. Hal utama yang diucapkan seusai shalat pun dikatakannya adalah beristighfar.

"Kita ini manusia, tempatnya lupa pasti ketika shalat  pernah lupa rakaat ataupun bacaan disitu arti penting beristighfar," tuturnya.

Selain itu, dalam kehidupan sehari-hari diakuinya banyak orang kerap kali lupa untuk bersyukur. Ia menggambarkan apabila dalam shalat seseorang tidak mengucapkan kata Alhamdulillah maka tidak sahlah shalatnya. Namun, hal itu jarang terjadi mengingat pengucapan syukur hadir ketika pembacaan surat Al-Fatihah.

Pun demikian, ia mengungkapkan dalam hidup manusia umumnya dibagi ke dalam tiga jenis kenikmatan. Nikmat pertama adalah kenikmatan jasad dimana kita diibaratkan tanah yang terkena rintik hujan begitu banyak tapi ketika tanah digali tidak basah, nikmat jasad hanya terasa di luarnya saja.

Selanjutnya adalah nikmat jiwa yakni ketika kita meniatkan sesuatu hanya untuk Allah SWT maka tidaklah ada halangan yang berarti. Terakhir adalah kenikmatan rohani yang dirasakan oleh para mujahid di jalan Allah SWT. Dijelaskannya, orang-orang di golongan inii diibaratkan berada di dalam perut burung hijau surga dimana akan dapat pergi kemana pun mereka suka.

"Semua pilihan berada di tangan kita, kalau di logika apakah kita mau hanya merasakan kenikmatan jasad?" tegasnya. (ifa/man)

×