
Kampus ITS, ITS News — Tak hanya mahasiswa, saat ini, rakyat Indonesia juga berada dalam kondisi krisis literasi. Hal itu disampaikan pemateri acara Geomatics Book Festival (Geoval). Gelaran milik Himpunan Mahasiswa Geomatika (Himage) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengusung tema Darurat Literasi pada Mahasiswa, Sabtu (9/11).
Menurut data World’s Most Literate Nations yang disusun oleh Central Connecticut State University tahun 2016, peringkat literasi Indonesia berada di posisi kedua terbawah dari 61 negara yang diteliti. Tentu rendahnya tingkat literasi di Indonesia disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah kurangnya minat baca.
Acara ini turut mendapuk Aliansi Literasi Surabaya sebagai pembicara. Aliansi Literasi Surabaya merupakan wadah besar dari berbagai komunitas kecil membaca buku di Surabaya. Salah satunya yang telah tergabung dalam ALS adalah Pustaka Emperan oleh Departemen Sistem Informasi ITS. Dilatarbelakangi oleh satu tujuan yang sama, ALS ingin mengajak masyarakat untuk meningkat minat baca.
Ulung Hananto, salah satu pembicara, menyebutkan bahwa bukan hanya mahasiswa saja yang darurat membaca, tetapi juga rakyat Indonesia. Padahal baginya, literasi dapat dijadikan titik acuan untuk mengubah negara dari sisi yang diinginkan. “Masyarakat utamanya mahasiswa, di era digital ini, lebih menyukai hal yang ringkas dan cepat. Begitupun dalam hal literasi,” ungkapnya membuka dialog.
Menurutnya, kebanyakan mahasiswa di Indonesia mempunyai kemampuan baca yang tinggi, akan tetapi kemampuan tersebut tidak diikuti dengan daya baca yang tinggi pula. “Kita sudah belajar dari sekolah dasar, yang jelas kita memiliki kemampuan yang cukup untuk memahami suatu literasi,” tuturnya.
Melanjutkan pernyataan Ulung, Frido Yoga, pembicara kedua, menambahkan bahwasanya darurat literasi yang dimaksud di kalangan mahasiswa ditandai dengan tidak banyaknya mahasiswa yang membaca informasi secara lengkap. Sehingga, informasi yang didapatkan dari sebuah literatur tidaklah utuh dan menyeluruh. “Mahasiswa tidak membaca secara komprehensif. Ketika membaca media arus utama, jika hanya dibaca sepenggal saja, maka kita akan tersesat,” terangnya.
Ketika ditanya akan pentingnya literasi, keduanya sepakat bahwa literasi sangat bermanfaat bagi mahasiswa, utamanya bagi mahasiswa semester akhir yang membutuhkan banyak literatur untuk menyelesaikan studinya. “Yang terjadi saat ini, banyak mahasiswa tingkat akhir yang kebingungan untuk membuat dasar teori. Karena kebanyakan mahasiswa baru membaca ketika semester akhir,” tandas Ulung.
Sementara, Frido mengungkapkan bahwa rendahnya literasi akan terasa saat keluar kampus nanti. Baginya, kuliah adalah masa orientasi sebelum memasuki dunia kerja. Sehingga, mahasiswa seharusnya mewajibkan literasi seperti menyelesaikan tugas. “Literasi itu membentuk kehidupan atau pola pikir kita yang lebih lengkap. Sudah semestinya mahasiswa memandang literasi untuk bisa memandang kehidupan secara utuh,” ungkap pegiat literasi ini.
Padahal baginya, mahasiswa punya banyak kesempatan untuk meningkatkan literasi mereka, terutama melalui minat baca. Kampus memiliki banyak fasilitas untuk dijadikan lapak membaca ataupun ruang diskusi. “Sayang bila tidak dimanfaatkan, apabila mahasiswa saja darurat literasi, bagaimana dengan lainnya yang belum berkesempatan untuk bersekolah,” ungkap Frido.
Ia pun mengajak mahasiswa untuk membudayakan literasi dimulai dari diri sendiri. “Baca saja, mau itu romantisme atau drama. Secara tidak langsung bacaan yg kita baca akan membangun karakter diri dan intelektual kita.“Saya ingin mahasiswa selalu mengingat peribahasa buku adalah jendela dunia,” pungkasnya. (meg/dya/id)
