Gali Potensi Pesisir Surabaya di Waterfront City

Published on
By

Kamis(5/5), para finalis dari kompetisi waterfront city tampak bergantian mempresentasikan konsep dan inovasinya di tengah panggung Grha ITS. Tuan rumah tampak mendominasi final kali ini, Dari tujuh finalis yang berlaga, empat diantaranya berasal dari ITS.

Kompetisi waterfront city sendiri dihelat untuk menantang para pesertanya dalam menciptakan gagasan dan inovasi teknologi pengembangan perairan di Surabaya.”Kota Surabaya merupakan daerah pesisir, jadi potensi untuk mengembangkannya sebagai kota perairan sangat tinggi,” ujar Hesti Martadwiprani, koordinator pelaksana kompetisi ini.

Tiga dosen berpengalaman dari ITS ditunjuk sebagai juri di kompetisi ini. Mereka berasal dari jurusan Teknik Kelautan dan Jurusan Planologi. Sistem penilaian dari kompetisi ini menekankan pada kualitas inovasi yang digagas dan juga cara penyampaian ide mereka di hadapan para juri. ”60 persen penilaian diambil dari proposal yang diajukan dan sisanya adalah dari nilai presentasi para finalis,” papar Hesti.

Berbagi inovasi untuk mengembangkan Surabaya menjadi waterfront city muncul di kompetisi ini. Salah satunya adalah teknologi pemanfaatan energi angin dan sinar matahari di pesisir yang digagas oleh tim dar Universtas Negeri Yogyakarta. Mereka menggagas pembuatan alat fly wheel dan luv focuser untuk pemanfaatan sumber energi tersebut.

Ada juga ide kawasan wisata bahari terpadu yang digagas oleh salah satu tim dari ITS. Mereka menerapkan konsep edukasi, entertainment, dan bisnis dalam ide tersebut. ”Dengan konsep ini kami berharap potensi Surabaya menjadi waterfront city termaksimalkan,” papar Fahmi Adiba, anggota tim tersebut.

Tanggapan positif muncul dari para finalis kompetisi ini, salah satunya adalah dari tim yang menggagas ide biodiversity. ”Bagus, konsep perlombaan ini bisa bermanfaat terhadap kemajuan kota ini, semoga benar-benar ada yang terrealisasi,” pungkas Ahmad Setiawan, anggota dari tim yang berasal dari ITS tersebut.(izz/yud)    

×