Perempuan lulusan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya tersebut menjadi Founder dari sebuah gerakan berbasis aplikasi yang mengajak para penggunanya untuk mendonorkan darahnya. Tidak sekadar mendonorkannya, namun juga mengakomodirnya, mengedukasi, bahkan mengapresiasi mereka.
Perempuan yang kerap disapa Leo itu mengatakan, jika suatu teknologi dimanfaatkan dengan benar, maka ia juga dapat menyambung nyawa seseorang. Tujuan dia membuat aplikasi ini adalah agar tak ada lagi masyarakat yang kekurangan stok tranfusi darah saat mereka membutuhkan. "Saya mikirnya, kenapa kita nggak bikin stok darah itu available?" terangnya.
Leonika tergerak untuk mendirikan Reblood karena menyadari adanya permasalahan dalam suplai darah yang dibutuhkan dunia medis di Indonesia setiap tahunnya. Mengutip data dari Kementrian Kesehatan, Leonika menyebutkan bahwa pada tahun 2013 Indonesia kekurangan 2,4 juta kantong darah dan 1 juta kantong pada tahun 2014. Meski angkanya menurun, menurutnya angka tersebut masihlah sangat tinggi.
Berbekal latar belakang pendidikan yang bergerak dibidang Sistem Informatika, Leonika bersama teman-temannya yang tergabung dalam Reblood Indonesia membuat aplikasi bermisi kemanusiaan yang bergerak untuk kemudahaan donor darah.
Sukses membangun Reblood, Leo sama sekali tak berniat untuk bekerja di perusahaan setelah lulus. "Saya nggak mau kerja, maunya bikin start up," ungkap perempuan yang sempat bercita-cita menjadi dokter tersebut.
Sebelum sesukses sekarang, ada hal yang baru sadari Leo ketika mendirikan start up yang dulu bernama Bloobis (Blood Bank Information System) tersebut. Leo mengalami hal yang paling menyakitkan pada masa-masa awal ia merintis Bloobis. "Pengalaman paling menyakitkan adalah ketika ditinggal tim. Mereka motivasinya salah semua," ujar Leo.
"Kalau bikin karya itu jangan untuk kepentingan pribadi. Tapi untuk mengatasi masalah," tegas mahasiswi Jurusan Sistem Informasi 2011 tersebut. Kendati demikian, Leo tak patah semangat. Perempuan yang menyukai pelajaran Biologi ini kini dapat merasakan imbasnya. Reblood akhirnya terealisasi pada tahun awal tahun 2015.
Pada perjalanannya, Reblood sukses mendapatkan penghargaan yaitu Incubated Startup from Start Surabaya Batch 1 dan Top 3 Startup Sprint by Start Surabaya di awal tahun 2016. Leo sendiri pernah dinobatkan dalam 30 Under 30 2016 Asia versi majalah Forbes untuk kategori Healthcare and Science. (mbi/guh)