”Yang terpenting dari seorang mawapres adalah mampu menginspirasi lingkungan sekitar untuk menjadi lebih baik,” ungkap Mashuri, Mawapres asal Jurusan Fisika membuka workshop. Sebagai pemateri, Mashuri mengatakan bahwa Mawapres sejatinya bukanlah suatu gelar yang harus dikerjar, melainkan suatu proses yang harus dipelajari.
Dalam kesempatan ini, Mashuri menerangkan berbagai persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjadi Mawapres. Salah satunya soal Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang selama ini dianggap sangat berpengaruh dalam penilaian. Namun, anggapan tersebut dibantah oleh Mashuri, ia mengatakan bahwa Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) hanya mensyaratkan IPK minimal 2,75.
Justru menurut Mashuri, hal yang tak kalah penting dalam penilaian Mawapres adalah terkait kegiatan ekstra kulikuler. Kegiatan yang dimaksud meliputi aktivitas di organisasi, riwayat pelatihan dan pengabdian masyarakat. Selain itu, karya ilmiah, kemampuan berkomunikasi dan bahasa asing, serta attitude juga memiliki porsi tersendiri dalam penilaian.
”Perjalanan menuju mawapres sangatlah panjang dan perlu persiapan yang matang untuk menyiapkan berbagai berkas persyaratan,” terang Mashuri. Hal itu dikatakan Mashuri mengingat tidak sedikit mahasiswa ITS yang kerap melakukan kesalahan dalam proses seleksi administrasi. Dimana hal tersebut sebagian besar disebabkan oleh waktu pendaftaran peserta yang terlalu dekat dengan batas akhir.
Secara khusus, panitia menjelaskan bahwa acara ini sengaja digelar untuk memperkenalkan proses seleksi Mawapres lebih dini kepada mahasiswa tahun kedua. ”Dengan demikian, mereka (mahasiswa, red) dapat menyiapkan berbagai persyaratan untuk mendaftar pada mawapres jurusan, fakultas, maupun institut.” harap Ririn Dewi Lila, perwakilan panitia. (ady/ald)