Tak tanggung-tanggung, perguruan tinggi yang diundang dalam FGD ini berasal dari National Central University (NCU), Taiwan, Prof How Wei Chen. Selain itu, hadir pula dari pihak industri yang diwakili oleh PT Chevron Indonesia dan beberapa perusahaan lain. "Kami mendiskusikan dampak riset geotermal bagi industri bahkan juga universitas," ujar Dr Widya Utama DEA, Dosen Jurusan Geofisika tersebut.
Lebih lanjut, Ia menerangkan bahwa kegiatan ini berlangsung karena prihatin melihat keadaan geotermal yang belum berjalan maksimal di Indonesia. Sehingga harus ada cara yang segera diterapkan dalam membenahi keadaan tersebut. ”Sebab dalam pemanfaatan panas bumi, hal-hal yang perlu ditinjau adalah dari sisi teknologi dan juga data yang tentunya diperlukan dalam sebuah riset,” jelas Wid, sapaan akrabnya.
Gayung pun bersambut. pernyataan untuk berbagi data mengenai kondisi panas bumi di Indonesia disanggupi oleh pihak industri yang saat itu terlibat. Sehingga hal itu dinilai Wid sebagai bentuk dukungan yang sangat membantu. ”Sebab mencari data bukanlah sebuah perkara yang mudah. Meski memiliki uang banyak, biasanya belum tentu kita mendapatkan izin,” imbuhnya dengan senyum.
Di sisi yang lain, perbincangan dengan NCU ternyata juga membuahkan hasil. Wid menjelaskan bahwa Memorandum of Understanding (MoU) mengenai kerjasama riset antara kedua universitas sudah dibuat. ”Untuk sekarang, tinggal pelaksanaan Memorandum of Agreement secara teknis saja yang perlu didiskusikan lebih lanjut,” kata Wid.
Terlepas dari itu, Wid menilai bahwa diskusi yang menghasilkan berbagai langkah strategis tersebut akan memberi banyak keuntungan bagi ITS. ”Terutama peluang berkarir bagi lulusan kampus ini," tutup Wid.(hil/ao)