Empat Filsafat Warnai Penyerahan Gamelan ke ITS

Published on
By

Dosen jurusan Teknik Mesin ini mengungkapkan, hampir semua daerah di Indonesia mempunyai gamelan, tidak hanya Bali. dalam acara yang digagas ITS dan PemprovBali ini diuraikan empat filsafat dari sebuah gamelan yang sangat erat dengan kehidupan manusia. “Sebenarnya terdapat filsafat  dalam gamelan yang terkait dengan kehidupan kita dan itu bukan abstrak,” paparnya.

Pria asal Bali ini menceritakan, di dalam bunyi gamelan terdapat kritikan terhadap management manusia. Kondisi saat ini pada banyak institusi pemerintah atau non pemerintah, jika terjadi pergantian pemimpin maka semua sistem dan SDM nya kembali diubah. Padahal, siapapun pemimpinya seharusnya melanjutkan management dan system yang sudah bagus.

Hal inilah yang membuat Indonesia tidak akan pernah maju karena selalu kembali dari awal. “Gak pernah maju, bisa diibaratkan lari ditempat,” jelasnya. Ia meneruskan, hal tersebut merupakan filsafat pertama yaitu terdapat sistem yang berkelanjutan.

Filsafat  yang kedua adalah management perbedaan. Pada seperangkat Gamelan terdapat bermacam-macam alat yang berbeda dan mempunyai fungsi masing-masing. “Kalau dimainkan sendiri-sendiri tidak enak, jadi harus dikolaborasikan,” cetusnya. Ini menggambarkan bhineka tunggal ika, bermacam-macam perbedaan namun tetap satu tujuan.

Untuk mencapai tujuan itu, harus ada management yang baik. Semuanya harus saling mendukung dan mengapresiasi. “Tidak malah saling menjatuhkan dan harus bisa menghargai perpedaan,”  papar ketua Lembaga penelitian dan pengapdian masyarakat (LPPM) ITS ini.

Karena terdapat banyak perbedaan, maka setiap individu dituntut mengutamakan kepentingan kelompok dibading kepentingan individu. Ini diperlukan sebuah management pribadi, yaitu managemen ego. Hal tersebut merupakan filsafat yang ketiga.
Kemudian, kalau dilihat pemain gamelan akan selalu goyang-goyang. Hal ini dilakukan karena permainan gamelan tidak hanya dituntut enak didengar saja, namun juga harus enak dilihat. “Harus ada inovasi untuk mengolah rasa dan rasio,” jelasnya.

Oleh karena itu, dituntut harus ada management orang-orang kreatif yang hebat. “Dan inilah filsafat keempat, management kraetifitas,” lanjutnya. Dan keempat management ini harus dipunyai seorang manusia jika ingin mereka mencapai kesusksesan tertinggi. (rik/nrf)

×