
Manokwari Selatan, ITS News — Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) 2026 berikan pendampingan kepada petani kakao untuk memberikan penguatan ekonomi produktif yang berbasis potensi lokal. Dengan wilayah kerja di Distrik Momi Waren dan Ransiki, Papua Barat, tim patriot ini dipimpin oleh Berto Mulia Wibawa SPi MM PhD.
Menurut Berto, kawasan Momi Waren menghadapi berbagai tantangan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang kompleks. Ia menjabarkan bahwa angka kemiskinan struktural di wilayah tersebut mencapai 26,83 persen pada tahun 2024. Angka itu menunjukkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) berada pada kategori sedang.
Padahal, Berto mengungkapkan Momi Waren memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan. Pada tahun 2023, komoditas kakao di daerah ini pernah meraih penghargaan internasional berupa Gold Award Cacao of Excellence. “Namun, kenyataannya para petani masih menjual hasil panen dalam bentuk biji mentah, dengan pemasaran belum komunal dan harga yang tidak stabil,” pungkasnya.

Keberhasilan panen pun kerap terancam akibat keterbatasan data iklim dari BMKG, serta tantangan infrastruktur jalan menuju kampung di daerah lereng. Selain itu, terdapat permasalahan lain seperti diversifikasi pangan yang rendah, dengan bergantung penuh satu komoditas. “Kami mendapati tidak ditemukannya petani beras, hanya petani kakao yang menunjukkan wilayah ini bergantung tinggi pada satu komoditas,” papar ketua TEP 6 ITS itu.
Menjawab persoalan itu, tim patriot 6 ITS bawakan program unggulan yang berfokus pada pendampingan petani kakao yang dibagi secara berurutan ke dalam dua tahap. Pertama, pelatihan on-farm untuk memperbaiki kesuburan tanah serta konservasi air. Berikutnya, tim berikan pelatihan off-farm guna meningkatkan mutu pasca panen serta memperluas akses.
PT Eiber Suth Cokran dihadirkan langsung dalam pelatihan agar petani memiliki kontak industri permanen. Selain itu, tim juga memfasilitasi mekanisme pengumpulan hasil panen komunal serta uji coba pengiriman biji ke perusahaan. “Karen prinsip kami, yang ditinggalkan bukan bantuan, tetapi kemampuan, alat, kelembagaan, dan jaringan,” ujar Berto.
Untuk keberlanjutan, tim patriot yang dipimpin oleh dosen Manajemen Bisnis ITS itu menyusun peta jalan sembilan tahap untuk menjawab persoalan yang ada. Melalui forum group discussion (FGD) dengan pemangku kebijakan dan masyarakat setempat, tim memberikan lokakarya yang mendukung pengembangan ekonomi warga. “Kami berikan pelatihan pembukuan, digital marketing, hingga kerja sama dengan pelaku industri secara bertahap,” tutur Berto.
Kemudian, tim patriot menekankan penguatan kelembagaan lokal, bukan menggantikannya dengan kelompok yang baru. Hal itu dinilai jauh lebih efektif dan berkelanjutan guna menghindari kelembagaan yang berisiko mati begitu tim pulang.

Lebih lanjut, Berto mengungkap bahwa tim berhasil menghasilkan berbagai inovasi konkret jangka panjang. Penyusunan kalender tanam berbasis data curah hujan BMKG, panduan pengukuran pH tanah, serta standar operasional prosedur (SOP) pembuatan rorak lubang atau parit kecil. “Seluruhnya didokumentasikan sebagai panduan tertulis yang bisa dipakai berulang, bukan pelatihan sekali pakai,” terang dosen ahli bidang Pemasaran Kewirausahaan ITS tersebut.
Dukungan yang diberikan oleh tim patriot ITS ini tidak hanya turut andil dalam kesuksesan program dari Kementerian Transmigrasi (Kementrans) RI saja, namun juga berperan dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Terutama SDGs poin ke-1 dan ke-8 yang menekankan pertumbuhan ekonomi demi tercapainya kehidupan masyarakat tanpa kemiskinan. (*)