Selasa, (7/3) Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM), Sakri Widianto dan Kepala Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Deperindag) Jawa Timur, Sucipto bersama rombongan serta beberapa undangan dari berbagai instansi desain dan pendidikan bertemu di ITS. Selain berdiskusi tentang desain, mereka juga berdiskusi wacana enterpreneur di kalangan mahasiswa.
Tentang desain yang harus dikembangkan, Direktur Penelitian STISI Bandung, Kuswo Budiono mengusulkan, "Karya UKM harus mendekati kebudayaan. Ancur kalau Desain tidak dengan budaya. Suatu karya yang tidak muncul dari kebutuhan tidak akan laku." Dalam hal ini, menurut Kuswo, karya mahasiswa ITS baru mampu membina dirinya sendiri, karena dia berada di level teknologi tinggi yang kebanyakan tidak terlalu dibutuhkan oleh rakyat, khususnya IKM.
Namun jika orientasi teknologi tersebut dirubah, menurut Kuswo, ITS akan kehilangan jati dirinya sebagai pakar teknologi. "Jika orienatasi teknologi tinggi diubah jangan-jangan akan mirip seperti IKIP Bandung yang merubah orientasi dengan tidak lagi hanya menelurkan guru. Dengan orientasi yang berubah, IKIP pun jadi UPI. Apakah ITS mau jadi UPI selanjutnya?" Paparnya
Mengenai hubungan antara institusi pendidikan dan IKM, Priyo Utomo, Ketua Pusat Desain Nasional mencontohkan Negara Jepang. Menurutnya, pemerintah Negeri Matahari cukup baik mensinergikan antara mahasiswa dan pekerja seni kayu atau bubutan.
Dia menjelaskan, "Pemerintah Jepang memberikan fasilitas tempat berjualan, berwisata, dan asrama. Asarama ini untuk mahasiswa yang diberi kesempatan kurang lebih setahun hidup bersama mereka, para pekerja seni. Mahasiswa berperan membantu para seniman untuk menghasilkan produk baru."
Namun menurut Nanang, peran mahasiswa disana masih perlu diperjelas. Misalnya jika mahasiswa dijadikan pengusahanya maka peran itu kurang pas. "Ketahanan mental enterpreneur seorang mahasiswa belum setetap praktisi," kata perwakilan Universitas Paramadina ini.
Priyo pun memberikan gagasan sembari menjelaskan betapa penting peran mahasiswa dengan segala keunggulannya di indistri ini. Dia mengatakan, "Bayangkan jika IKM yang kreatif tapi terbatas ditambah dengan keunggulan Mahasiswa Institut teknologi yang memiliki keunggulan berfikir sistematis!"
Menanggapi pernyataan Priyo, Sakri berkomentar, "Tapi bagaimana men-drive khayalan tersebut menjadi kenyataan?", dari pertanyaan ini, muncul usulan untuk mengadakan pameran. langsung saja usulan ini membuat Sakri menantang para peserta untuk bisa berpartisipasi di Pameran Ekspor Oktober tahun ini.
"Untuk pameran ini sebenarnya sudah direncanakan bulan oktober 2006. Akan disediakan tempat bagi perguruan tinggi. Tapi ingat, barang yang dipamerkan harus siap ekspor, baik dari kualitas maupun kuantitasnya!" Ujarnya.
Usai diskusi, Acara yang dihadiri berbagai Institusi Pendidikan seperti, ITB, Petra, Paramadina, IKJ, dan lainnya dilanjutkan dengan studi lapangan ke Tanggullangin. Para peserta akan menyaksikan IKM khususnya di bidang produksi Barang Jadi berbahan dasar kulit.(mac/ftr)