Para mahasiswa berprestasi tersebut adalah Alfian Candra Ayuswantana, Boni Agusta, Charina Amalia, Hadi Prayogo, serta Gusta Koncar. Alfian Candra yang akrab disapa Acan tergabung dalam satu tim bersama Boni. Sedangkan Charina, Hadi serta Gusta di tim lainnya. Dalam kompetisi kemasan bergengsi ini ada tiga kategori yang diperlombakan, yaitu kemasan makanan, rokok, serta herbal. Tema yang diangkat memang merujuk pada kemasan Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Kelompok Charina, Gusta dan Hadi menjadi jawara utama dalam kategori makanan. Sedangkan Acan dan Boni menduduki peringkat kedua dalam kategori kemasan herbal.
Charina yang mewakili kelompoknya mengaku mengangkat keunikan bakpia Geluran. Bakpia ini berasal dari daerah sekitar Sepanjang, Sidoarjo dan umumnya dijual di stasiun kereta api. Berangkat dari pemikiran stasiun adalah tempat transit, Charina dan teman-teman sekelompoknya berusaha mendesain suatu bentuk kemasan yang dapat mengakomodasi kebutuhan penjualan bakpia di area ramai.
“Intinya kemasan adalah keamanan," sebutnya. Dari situ akhirnya terciptalah desain unik kemasan bakpia berbentuk segi enam. Kemasan berbentuk segi enam menurut mahasiswi angkatan 2006 ini, lebih kuat, sehingga meminimalisir rusaknya bakpia semisal kemasannya terjatuh.
Uniknya lagi kemasan bakpia bisa dibuka menjadi dua dan juga berfungsi sebagai penadah remah-remah. Para mahasiswa prodi Desain Komunikasi Visual ini rupanya jeli mengamati kebiasaan orang apabila memakan bakpia selalu mendahkan tangannya untuk menampung remah-remah bakpia yang rontok.
Mengenai kejelian ini Charina menyebut tak lepas dari kebiasaan yang ditanamkan dosen di Jurusannya. Menurutnya, ia dan teman-temannya dalam membuat tugas dibiasakan untuk melakukan riset terlebih dahulu terhadap produk tersebut sehingga karya yang dihasilkan memiliki konsep yang jelas. “Mungkin riset ini jugalah yang menambah nilai plus kami di hadapan para juri,†imbuhnya seraya tersenyum.
Lain lagi dengan cerita Acan dan Boni. Berjibaku dalam kategori herbal, mereka mengusung Madu Sumber Podang dari Pasuruan. Berbeda dari rival-rivalnya yang menggunakan botol yang sudah ada, Acan dan Boni memilih mendesain sendiri botol madu untuk produk mereka. Selama ini produk madu menggunakan botol sirup bekas. Ketergantungan pada botol produk lain inilah yang coba ditepis oleh Acan dan Boni.
“Bagaimana kalau suatu saat botol sirup yang dipergunakan habis atau produsen sirup tersebut memutuskan untuk mengganti bentuk botolnya. Apakah produsen madu jadi ikut berganti kemasan?“ ujar Boni. Memiliki bentuk botol sendiri menurut Boni dapat menunjukkan ciri khas produk tersebut.
Menariknya karena menginginkan desain botol yang berbeda, botol madu yang dipergunakan dibuat sendiri oleh Acan dan Boni dibantu dosen dari Prodi Desain Produk. Botol berleher tinggi tersebut terbuat dari resin. Perlu hingga lima kali pengampelasan agar wujud botol tersebut tampak bening doff. “Pokoknya susah,†cetus Boni seraya tertawa.
Namun kerja keras Boni dan Acan, Charina, Hadi serta Gusta sudah terbayar dengan manis. Bahkan mereka memiliki kans untuk berprestasi di tingkat yang lebih tinggi, karena kini karya mereka berada di luar negeri untuk bersaing dalam kompetisi kemasan tingkat Asia. (tyz/mtb)