Nantinya, peserta dalam event tersebut akan mengikuti 3 hari pelatihan intensif. Menariknya, yang akan melatihnya nanti adalah mantan Wakil Presiden AS, Al Gore yang terkenal dengan filmnya berjudul An Inconvenient Truth.
Joni merupakan salah satu peserta yang berhasil lolos di antara lebih dari dua ribu orang pelamar se-Asia Pasifik. Ini merupakan kali pertama peserta dari kawasan Asia Pasifik diikutsertakan secara khusus dalam program yang dikembangkan sebagai The Climate Project-Australia ini.
Acara ini akan dihadiri oleh 300 orang peserta yang mewakili berbagai kalangan industri, advokasi, universitas dan kelompok masyarakat yang berasal dari negara-negara Australia dan kawasan Asia Pasifik. Mereka akan mendapat manfaat dari pengaruh Al Gore dan kepakaran panel ahli lainnya yang terdiri dari para ilmuwan internasional. Mereka akan bertindak sebagai pelatih dalam acara yang diselenggarakan oleh Australian Conservation Foundation (ACF) ini.
Sebagai peserta, Joni akan mempunyai kesempatan untuk membantu mengembangkan fokus dan memasukkan isu-isu penting dari kawasan Asia Pasifik, khususnya Indonesia. Antara lain dalam merespon perubahan iklim yang akan diangkat pada perhelatan dunia Konferensi Perubahan Iklim UNFCCC di Kopenhagen, Denmark, Desember 2009 mendatang.
Setelah mengikuti acara ini, guru besar Teknik Lingkungan ini akan melengkapi aktivitasnya dengan memberi 10 kegiatan sosialisasi terhadap berbagai kalangan masyarakat dalam mengantisipasi bencana yang akan terjadi akibat perubahan iklim. Kegiatan tersebut dijadwalkan akan diadakan 5 kali sebelum 30 November nanti, terutama terhadap para kolega, civitas akademika dan media, untuk meningkatkan kesadaran dalam menanggapi dampak perubahan iklim.
“Saya berharap peran saya dalam the A-P Summit ini akan cukup berarti dalam memberi inspirasi dan menciptakan perubahan untuk menghindari bencana akibat perubahan iklim di Indonesia, khususnya di kota Surabaya ini,†tutur pria asal Bandung ini.
Untuk itu, ia berencana akan terus ikut mengadvokasi hal-hal tersebut dalam 5 bulan ke depan sebagai persiapan untuk meningkatkan posisi bangsa Indonesia dalam negosiasi perubahan iklim di Kopenhagen mendatang.
“Kita tentunya bangga apa yang telah dicapai Pak Joni Hermana dan mendukungnya dalam mensosialisasikan perubahan iklim ini secara efektif dalam tahun ini. Sudah saatnya ITS dan bangsa Indonesia umumnya berkomitmen melakukan tindakan nyata untuk menghindari bencana yang lebih buruk sebagai dampak dari perubahan iklim,†kata Rektor ITS Prof Ir Priyo Suprobo MS PhD.
Sementara itu, Angela Rutter, Manager of The Climate Project–Australia sebagai penyelenggara, dalam rilisnya mengatakan bahwa The A-P Summit mempunyai agenda spesifik dalam kerangka aksi terhadap perubahan iklim, terutama bagi negosiasi Kopenhagen di akhir tahun ini. “Bersama para delegasi lain dalam A-P Summit ini diharapkan peserta akan mampu memberi inspirasi masyarakat di kawasannya masing-masing dan membuat perubahan dalam level global†tulisnya.
Menurutnya, satu dari 75 orang Australia melihat bahwa presentasi yang diberikan peserta yang telah dilatih Al Gore akan membawa perubahan pada masyarakat di Australia.(humas/bah)