Dari Nol, Hovercraft Pinisi Raih Juara Tiga

Published on
By

Tim yang beranggotakan Agung Widya Utama Candra, Rizaldi Abdillah Ihsan, dan Fuad Muzaki ini mempresentasikan sebuah hovercraft dengan tingkat efisiensi yang tinggi. Mereka menggunakan baterai standar sebagai sumber daya kapal, sementara tim pesaing lainnya mayoritas menggunakan baterai berdaya tinggi. ”Meskipun dayanya kecil, tapi kapal kami efisien,” ujar Agung Widya.

Sistem penggerak dari hovercraft juga menjadi salah satu keunggulan dari prototype tim Pinisi. Agung bersama timnya menggunakan sistem penggerak azimuth yang lebih efisien. ”Biasanya, hovercraft menggunakan sistem rudder,” tuturnya.

Tim Pinisi telah melakukan persiapan matang dalam menghadapi perlombaan ini. Dalam sebulan, mereka menghabiskan tiga hari dalam seminggu untuk menyempurnakan prototype hovercraft

Agung dan timnya terinspirasi membuat hovercraft dari video yang pernah sekilas dikenalkan oleh seorang dosen. Meskipun hovercraft tak banyak dipelajari dalam perkuliahan, para mahasiswa angkatan 2010 ini tidak lantas berputus asa. ”Kami mempelajari hovercraft secara otodidak, referensi terbanyak kami dapat dari searching di internet,” tutur Agung.

Selain kurangnya ilmu hovercraft dan pengalaman, tim Pinisi juga harus melewati berbagai hambatan lain untuk menghasilkan konsep hovercraft-nya. Salah satu hambatan yang mereka rasakan adalah pendanaan. ”Kami ini bondo nekat, modalnya juga dari urunan uang sendiri,” cerita mahasiswa asal Lampung ini.

Dalam seminggu, masing-masing anggota bisa menghabiskan hingga Rp 500 ribu untuk pembuatan prototype hovercraft. Namun jumlah itu saja belumlah cukup. ”Kami pun mengatur uang bekal di ibukota seefisien mungkin agar bisa membeli tiket balik ke Surabaya,” ceritanya.

Setelah mendapatkan pengalaman ini, berpendapat bahwa mahasiswa membutuhkan semacam unit kegiatan mahasiswa (UKM) dalam bidang keilmuannya. ”Dengan adanya ukm ini, mahasiswa dapat mengaplikasikan teori perkuliahannya secara nyata,” tuturnya. (set/izz)

×