Dalang Kondang Meriahkan Malam Dies Natalis

Published on
By

Pukul delapan malam, mulai terdengar para sinden berkebaya merah membawakan tembang Jawa diiringi alunan gamelan. Antusias, para penonton berdatangan memadati kursi kosong yang disediakan panitia demi mengikuti acara yang akan berlangsung hingga pagi dini hari tersebut.

Turut hadir pula Prof Ir Joni Hermana MScEs PhD, Rektor ITS untuk menyaksikan dan memberikan sambutan. Dalam sambutannya ia menyatakan pagelaran wayang seperti ini memiliki makna mendalam. "Bukan hanya budaya dan drama tetapi pesan cerita yang mengajak mengingat kepada-Nya," ujar Joni.

Dalam sambutan singkatnya ia berharap agar para penonton bisa belajar dan mendapat pencerahan dari jalan cerita yang akan di sampaikan Ki Manteb Soedharsono. Menurutnya, lakon Pandu Jumeneng Ratu yang akan dibawakan sangat pas dengan kondisi saat ini, mendekati ajang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). "Ceritanya tentang menjadi raja atau pemimpin tidak akan bermakna tanpa adanya bawahan," terang Guru Besar Teknik Lingkungan tersebut.

Terlihat dari kalangan mahasiswa ITS yang juga menonton pertunjukan tersebut. Muhammad Syaifuddin, mahasiswa Jurusan Fisika mengaku senang dengan pagelaran wayang yang diadakan. Merasa kecewa, ia mengatakan kesadaran mahasiswa untuk meramaikan acara seperti ini masih sangat kurang.

"Padahal ini acara kita bersama," ujar mahasiswa angkatan 2013. Di sisi lain, ia sedikit menyayangkan hari pelaksanaan yang berlangsung di hari aktif kuliah. Menurutnya akan sangat efektif bila dilaksanakan pada akhir pekan.

Namun, berbeda dengan masyarakat sekitar kampus ITS. Pagelaran wayang ini cukup menarik minat masyarakat untuk hadir menyaksikan lakon ini. Beberapa orang dari paguyuban Teras Dulu tampak duduk lesehan ditemani beberapa gelas kopi hangat. Salah satunya adalah Saiful Wakid, pria asal Kediri yang tinggal di daerah Manyar ini mengaku sangat senang sekali ITS bisa mengadakan acara luhur seperti ini.

"Senang sekali, wayang ini punya Indonesia jangan sampai hilang. Harus terus kita lestarikan. Gak hanya wayang tapi juga kesenian yang lainnya juga," ujar pria dengan penutup kepala khas Jawa ini. Meskipun saat itu hujan mengguyur, tetap tidak menyurutkan niatnya untuk datang meramaikan acara yang baru diketahuinya sore itu juga.

Ia juga mengakui mengidolakan Ki Manteb dan berharap di tahun depan ITS bisa mengadakan wayang dengan mendatangkan dalang kondang lainnya, Ki Manteb dan Ki Anom Suroto. (mei/riz)

×