Di Indonesia, dikenal beragam jenis gamelan. Contohnya saja gamelan Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Masing-masing memiliki perbedaan dalam sisi tuning hingga materialnya. Dengan begitu, cara untuk mengidentifikasi masing-masing gamelan pun sulit dilakukan. "Apalagi hingga kini metode yang digunakan masih menggunakan indera pendengaran yang butuh waktu lama," ungkap pria yang akrab disapa Aris ini.
Untuk itulah Aris meneliti cara mengindentifikasi gamelan secara otomatis. Caranya adalah dengan memberi wajah pada pola suara gamelan agar identifikasi mudah dilakukan. Dalam upaya untuk mengenali suara gamelan, dibutuhkan fitur untuk membedakan suara gamelan satu dengan yang lain. "Fitur itu lah yang kemudian digunakan untuk membangun model Classifier SVM yang mendeteksi suara gamelan secara otomatis," jelas dosen Jurusan Sistem Informasi ini.
Bapak beranak dua ini mengungkapkan, kesulitan dalam pembuatan alat pendeteksi otomatis tersebut terletak pada pemilihan fitur yang digunakan. Sebelumnya, sudah ada dua fitur yang biasa digunakan, yakni fitur spektral berdasarkan spektrum dan fasial yang berbasis holistik. Namun, keduanya masih mengalami kesulitan untuk mengindentifikasi suara instrumen bonang.
Hal ini karena ada dua atau lebih suara yang terletak pada jalur frekuensi dan waktu yang sama. Ditambah pula terjadi tumpang tindih antara frekuensi harmonik pertama dan selanjutnya sehingga pemisahan suara sulit dilakukan. Untuk itu, Aris menggunakan dengan menggunakan metode korelasi silang.
Dari penelitiannya, Aris berhasil menemukan fitur baru yang ia namakan TMWAYS. "Namun, TMWAYS hanya bisa mengatasi problem instrumen bonang hanya ketika digabungkan dengan SPC," ungkapnya. Dengan gabungan antara TMWAYS dan SPC inilah maka model Classifier SVM akhirnya dapat dibangun.
Namun, Aris mengungkapkan penelitian ini terbatas pada gamelan berbahan kuningan dan tembaga yang memiliki kesamaan sistem tuning. "Wajah suara gamelan akan berbeda lagi apabila bahan pembuatnya berbeda," ungkap pria yang pernah menjabat sebagai Wakil Dekan FTIf ini.
Aris mengungkapkan, dengan diraihnya gelar doktor bukan berarti penelitian ini berakhir. Ada banyak hal yang bisa dikembangkan melalui penemuan awal ini. Aris mengungkapkan setelah ini, dia akan mengembangkan penelitian di bidang maritim. "Terutama untuk mengidentifikasi suara-suara di bawah laut yang belum bisa dijangkau manusia," pungkasnya sambil tersenyum. (gol/oly)