Cetak Generasi Rabbani, JMMI Selenggarakan MK

Published on
By

Masjid Manarul ‘Ilmi dipenuhi ribuan jamaah. Mereka adalah mahasiswa muslim yang mengikuti mentoring wajib semester ini. Sekitar 1500 mahasiswa yang hadir pada acara ini. Mereka memperhatikan materi yang disampaikan oleh pembicara.

”Semua manusia berhak untuk sukses,” ungkap Nando selaku pembicara. Menurutnya, kesuksesan itu ditentukan oleh ikhtiar dan do’a dari masing-masing individu. Bukan oleh keturunan, usia, fisik yang tidak ideal, modal, atau apapun itu. Tidak baik jika hanya pasrah tanpa usaha akibat pesimis melihat kelemahan diri.

Selain itu, Nando juga menjelaskan bahwa paradigma merupakan salah satu faktor penting dalam mencapai cita-cita. Dia menganalogikan hal ini dengan upaya untuk menjinakkan gajah. Sejak kecil, gajah dijinakkan dengan mengikat kakinya dengan rantai. Namun ketika sudah besar, rantai tersebut diganti dengan tali yang jauh lebih ringan daripada rantai. Tetapi gajah tetap saja tidak mau melepaskan diri karena dia mengira dia tidak akan bisa melarikan diri karena diikat, walaupun pengikatnya sudah berbeda. "Jangan sampai kita seperti itu," tutur Nando.

Seorang peserta bertanya pada kesempatan ini. Dia menanyakan tentang apa yang harus dilakukan ketika kegagalan terus-menerus datang menghampiri kita, walaupun kita sudah bekerja keras. Alumni Fisika ITS tersebut menjawab hal yang perlu dilakukan adalah mengevaluasi diri, belajar dan mengambil hikmah dari kisah sukses orang-orang sukses, dan menanamkan keyakinan di dalam hati bahwa kegagalan adalah proses untuk berhasil.

Ditemui secara terpisah, Razif Husna Imananda, selaku ketua panitia acara ini mengungkapkan bahwa pemilihan tema ini bertujuan untuk mencetak seorang pemuda berkarakter yang beriman sehingga mampu menanggulangi krisis keimanan. ”Menanggulangi krisis keimanan yang banyak terjadi saat ini,” jelasnya.  Dia berharap dengan Mentoring Klasikal ini, akan banyak mahasiswa yang mengikuti mentoring lanjutan. (nir/bah)

×