Menanti RI 1 Lulusan ITS

Dunia politik Indonesia dalam beberapa hari ini kembali mulai memanas. Belum usai kisruh tentang DPT dalam pemilu legislatif yang dipersoalkan oleh para elite politik, kini sudah mulai meributkan masalah koalisi. Sebagai penonton kita hanya bisa menikmati dan memetik sebuah pelajaran. Bahwa dalam dunia politik tidak ada yang namanya kawan atau lawan. Yang ada hanya sebuah kepentingan dari masing-masing golongan untuk merebut kekuasaan, dengan sebuah alasan yang sama, kepentingan bangsa.
Caddy yang Mengalami Peyorasi

Heboh Antasari turut menghebohkan Rani Juliani. Mau tidak mau, Indonesia pun mulai sering mendengar kata caddy. Sebuah profesi yang dijalani Rani. Lalu apa itu caddy? Belakangan kita mengenal caddy adalah orang yang menemani atau mendampingi pegolf. Sejak kasus Antasari Azhar mencuat, kata caddy sering disebut berbagai media. Dari sinilah kemudian kata caddy mengalami peyorasi.
Musisi Indonesia, Bermusik Separuh Hati

Beberapa waktu lalu Ucok AKA kembali beraksi di hadapan para rock mania Surabaya. Bertempat di Balai Pemuda, Ucok AKA benar-benar menjadi raja di malam itu. Menginjak usia kepala enam, Bang Ucok -begitu ia akrab disapa- mampu menyihir publik dengan lagu rock era awal yang disuguhkan. Seperti lagu Deep Purple, Smoke on the Water, tidak ada yang tidak mungkin malam itu.
Menjadi Mahasiswa Mau dan Mampu Menulis

Penulis lalu menulis? ah itu biasa. Dosen atau guru menerbitkan banyak buku pelajaran? ini juga sudah sering. Tapi bagaimana jika mahasiswa menulis? Hmm…ini baru luar biasa, apalagi jika si mahasiswa ternyata masih bau kencur, alias dalam tahun pertama
Apakah Indonesia Butuh The Dark Knight?

Antasari Azhar telah ditetapkan sebagai tersangka. Jika terbukti bersalah, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) nonaktif tersebut terancam hukuman mati. Berita terus berkembang. Antasari mengakui membunuh karena diperas korban. Cinta segitiga menjadi cerita. Lagi-lagi spekulasi menjadi perang wacana. Antasari dijebak, Antasari difitnah, ada yang ingin menghancurkan KPK, dan segala macamnya. Apapun kebenarannya, siapapun pelakunya, bagaimanapun motifnya, KPK tetap jadi korbannya. Kok bisa?