"Bola" Pilcarek ITS Kini di Mendiknas

Published on
By

Ketua Pilcarek ITS, Prof Machmud Zaki MSc, Senin (11/12) siang, mengatakan bahwa kini persoalan siapa yang akan dipilih dan kapan turunnya hasil pemilihan dari Jakarta bergantung dari Mendiknas. Karena memang panitia sudah menyerahkan semua berkas itu ke Mendiknas dengan tembusan Dirjen Dikti, Sekjen dan Irjen Depdiknas. “Keputusan nanti sangat bergantung pada Mendiknas,” katanya.

Ditanya kenapa harus diantar oleh tiga orang? Zaki mengatakan, itu semua adalah keputusan Rektor selaku ketua senat. Tujuannya adalah lebih mempertimbangkan pada segi etisnya saja. “Memang kalau dikirim melalui surat juga bisa, tapi akan lebih baik memang jika langsung disampaikan ke menteri,” katanya.

Ditanya tentang berkas apa saja yang diserahkan? Zaki mengatakan semua berkas Pilcarek diserahkan mulai dari tahap penjaringan hingga pemilihan oleh anggota senat, serta jumlah dan nama dari anggota senat institut. ”Berkas-berkas itu telah kami serahkan, termasuk berkas dan daftar riwayat hidup dari ketiga calon rektor,” katanya.

Apa tanggapan Mendiknas dengan penyerahan itu? ”Tidak ada komentar apa-apa. Pak Menteri hanya menerima laporan itu dan menyampaikan terimakasih, serta akan mempelajari isi laporan itu dengan seksama. Pak Menteri saat itu tidak membaca dan membuka, hanya menerima saja,” katanya.

Apa dijelaskan pula tentang gejolak yang kini berkembang di ITS? ”Tidak! Dan kami juga tidak menyampaikannya kepada Pak menetri, karena memang juga tidak ditanya. Kan tidak etis jika tidak ditanya kemudian tiba-tiba saja kami menyampaikannya,” kata Zaki.

Dihubungi terpisah, Prof Dr Ir Mohammad Nuh DEA dan Prof Ir Priyo Suprobo MS PhD, mengatakan, kalau mereka kini sepenuhnya menunggu hasil dari Mendiknas tentang penunjukkan siapa yang akan dipilih Presiden untuk jabatan Rektor ITS 2001-2011 nanti. “Kami hanya menyerahkan hasilnya dan Pak Menteri telah menerimanya dengan baik, termasuk juga tembusan yang disampaikan kepada Dirjen Dikti, Sekjen dan Irjen Depdiknas,” kata Probo.

Sedang Nuh menjelaskan, pilihan untuk mengantarkan langsung hasil Pilcarek, lebih pada keinginan untuk menepis berbagai kemungkinan akan munculnya berbagai spekulasi. “Memang jika harus dikirim itu bisa saja dilakukan. Tapi untuk menciptakan transparansi dan menepis berbagai kemungkinan adanya spekulasi, kami sengaja mengirimkan hasil itu secara langsung ke menteri dan demikian juga dengan tembusan-tembusannya . Walau empat tahun lalu, ketika saya terpilih, tidak ada yang tahu, apakah hasilnya sudah dikirim atau belum,” katanya.

Jika sudah seperti ini, kata Nuh menambahkan, maka “bola” Pilcarek sudah berada di Jakarta. "Artinya, jika nanti turunnya agak terlambat atau ada keputusan-keputusan lain, itu semua berasal dari Jakarta". (Humas/ftr)

×