Erna, sapaan akrabnya, mengaku selalu ingin menjadi seorang pengajar sejak kecil. Wanita asal Surabaya ini berkisah, ketika mengikuti teater, selalu ada adegan dimana anak-anak akan mengangkat papan bertuliskan profesi impiannya. "Setiap kali adegan itu datang, saya selalu sengaja mengangkat papan bertuliskan profesi guru," kenang Kepala Jurusan Matematika ini.
Memang mengajar sudah menjadi panggilan hidup Erna sejak dahulu. Namun, mimpi itu selalu dibarengi dengan kemauan untuk terus maju. Saat itu Erna kecil ditanya kenapa tidak mau jadi dosen saja. Dengan polos Erna bertanya, "Apa itu dosen?".
Kemudian Erna diberi tahu kalau dosen adalah gurunya guru. "Makanya kemudian saya ganti ingin jadi dosen," ungkapnya sambari terkekeh. Kedua kalinya Erna ditanyai, kenapa tidak sekalian jadi profesor saja?. Setelah tahu profesor adalah gurunya dosen, maka Erna pun ingin juga menjadi seorang profesor. Siapa sangka impian lugu masa kanak-kanaknya kini akhirnya terwujud lewat gelar guru besar yang akan donobatkan kepadanya.
Erna mengungkapkan gelar guru besar itu tidak datang begitu saja. Ada cerita dan perjuangan panjang hingga impiannya menjadi seorang guru besar bisa tercapai. Dalam kisah Erna sendiri, berbagai penelitian dan jurnal tentang matematika harus diterbitkannya terlebih dahulu sebelum gelar guru besar dapat digenggamnya.
Dalam orasi politiknya, Erna meneliti mengenai penerapan Metode Asimilasi Data: Salah satu Penerapan Matematika dalam Bidang Lingkungan Hidup. Dalam penelitiannya, Erna memanfaatkan penerapan metode asimilasi matematis untuk menghitung polusi air dalam tanah di daerah Rungkut, Surabaya.
Penelitiannya terinspirasi dari metode kalman yang dipelajarinya ketika di Belanda. Disana, Erna mempelajari bahwa metode matematis tersebut dimanfaatkan Bangsa Belanda dalam menghitung tinggi gelombang laut. Pun juga dalam perhitungan lintasan dan navigasi pesawat terbang. Namun, ternyata Erna lebih memilih untuk menerapkan penelitiannya dalam bidang lingkungan.
Tak tanggung-tanggung, penelitian ini telah ditekuni Erna sejak tahun 1999 silam. Ketertarikannya pada bidang asimilasi ternyata begitu besar hingga dia mampu dengan tekun menelitinya selama hampir 15 tahun lamanya. "Memang kalau kita mengerjakan sesuatu dengan iklas atau dengan segenap passion yang kita miliki, maka insyaallah semua berjalan lancar," ungkapnya.
Wanita rendah hati ini mengungkapkan gelar guru besar bukan suatu hal yang langsung membuatnya jadi sosok teladan. Erna yakin semua orang mampu untuk mendapatkan gelar tersebut. Hanya saja, dibutuhkan keuletan yang tinggi dan usaha yang lebih untuk senantiasa berkarya. "Dan yang tidak kalah penting, adalah kemauan untuk menerbitkan hasil penelitian mereka di jurnal internasional," pungkasnya. (gol)