Pre-Event 3 TEDxITS, Kenalkan Perspektif Baru dalam Memaknai Seni

Published on
By
Gambar Pemateri sekaligus penulis 80 buah buku dalam Bahasa Inggris DeLiang Al Farabi ketika memotivasi audiens untuk menjadi lebih dari apa yang dimiliki saat ini tanpa batasan waktu dan usia
Pemateri sekaligus penulis 80 buah buku dalam Bahasa Inggris DeLiang Al Farabi ketika memotivasi audiens untuk menjadi lebih dari apa yang dimiliki saat ini tanpa batasan waktu dan usia

Surabaya, ITS News —  Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menghadirkan ruang eksplorasi seni dengan sudut pandang yang beragam lewat gelaran TEDxITS Pre-Event 3 (PE3), Sabtu (23/5). Mengusung tema Point of View, kegiatan ini mengajak audiens untuk memahami karya seni melalui perspektif masing-masing individu. 

Pada hari pertama, PE3 menghadirkan sesi Mini TED Talk dengan mengundang bersama dua pegiat seni muda inspiratif. Keduanya antara lain penulis 80 buku dalam Bahasa Inggris DeLiang Al Farabi dan pelukis muda dengan disabilitas Qurrota’ain Rizky Cahyani.

Dalam sesi Mini TED Talk yang dibawakan oleh DeLiang Al Farabi, ia mengungkapkan bahwa batasan-batasan perspektif manusia tertanam sejak kecil dari lingkungan rumah.  Meski demikian, ia mengajak peserta untuk berani merealisasikan imajinasi menjadi sesuatu yang nyata dan bernilai positif. “Perspektif tidak datang dengan batasan usia dan wawasan tidak menunggu gilirannya,” tutur remaja berusia 13 tahun tersebut. 

Gambar Qurrota’ain Rizky Cahyani atau yang akrab disapa Tata merupakan pelukis cilik asal Surabaya yang menjadi pemateri tentang kebebasan memaknai ekspresi karya seni
Qurrota’ain Rizky Cahyani atau yang akrab disapa Tata merupakan pelukis cilik asal Surabaya yang menjadi pemateri tentang kebebasan memaknai ekspresi karya seni

Selaras dengan DeLiang, Qurrota’ain Rizky Cahyani yang akrab disapa Tata tersebut menjelaskan, cara memahami seni termasuk momen belajar dari masing-masing individu. Sambungnya, setiap orang memerlukan waktu dan pendekatan berbeda untuk mencerna informasi akan suatu karya. Hal tersebut juga menjadi gambaran bagaimana seseorang menghadapi persoalan hidup tanpa harus takut berbeda dari kebiasaan umum.

Sementara itu, Executive Producer TEDxITS Mu’adz Dzamir Al Musyarof menuturkan bahwa PE3 menjadi salah satu rangkaian menuju Main Event TEDxITS. Melalui perpaduan warna, cahaya, dan emosi yang dihadirkan lewat instalasi seni, pengunjung diharapkan mampu mengeksplorasi sudut pandang baru. “Kami ingin audiens sejenak menarik napas dan melihat seni dari perspektif yang berbeda untuk menghilangkan bias,” ujar mahasiswa asal Bandung tersebut.

Gambar Pagelaran karya seni yang mengusung sub-tema The First Mark, Unfinished Canvas, dan Many Hands, One Wall
Pagelaran karya seni yang mengusung sub-tema The First Mark, Unfinished Canvas, dan Many Hands, One Wall

Tak hanya menyuguhkan sesi Mini TED Talk, Mu’adz menyebutkan kegiatan ini akan dilanjutkan dengan pertunjukan seni yang mengusung sub-tema The First Mark, Unfinished Canvas, dan Many Hands, One Wall. Pada hari berikutnya, sesi lokakarya bersama dengan komunitas yang berfokus pada pengelolaan limbah industri menjadi karya seni I’m Not Trash pun tak luput untuk dihadirkan. 

Dengan terselenggaranya kegiatan PE3 TEDxITS ini, Mu’adz berharap semangat dalam mengeksplorasi makna karya seni dapat diterapkan pula dalam kehidupan sosial. Terutama, untuk mendorong seseorang agar lebih berani mencoba hal baru tanpa takut terhadap penilaian. Kegiatan ini juga mendukung ketercapaian ITS dalam Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas. (*)

 

Reporter: Ahmad Husein Al Qomary
Redaktur: Mifda Khoirotul Azma

×