
Jerman, ITS News – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus memperkuat perannya dalam transisi energi nasional melalui kolaborasi internasional. Kali ini, ITS menjadi bagian dari delegasi Indonesia yang difasilitasi Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH untuk mengikuti The Smarter E Europe/Intersolar Europe 2026 di Munich, Jerman. Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi ITS untuk mempelajari teknologi energi surya terkini sekaligus memperluas jejaring strategis dalam pengembangan agrivoltaik di Indonesia.
Kegiatan yang berlangsung pada 20–27 Juni 2026 ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), PT PLN (Persero), Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Danantara, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hingga ITS. Pada kesempatan tersebut, ITS diwakili oleh Wakil Kepala Center of Studies in Industrial Development and Public Policy (CSID) ITS, Mukhammad Muryono SSi MSi PhD.

Pameran The Smarter E Europe merupakan ajang industri energi terbesar di Eropa yang mempertemukan inovasi di bidang energi surya, penyimpanan energi, kendaraan listrik, hingga manajemen energi. Dalam kegiatan tersebut, dipaparkan perkembangan teknologi energi terbarukan di Jerman yang telah memasuki tahap komersialisasi, khususnya integrasi pembangkit listrik tenaga surya dengan sistem penyimpanan energi dan jaringan listrik.
Selain mengikuti konferensi internasional, delegasi juga melakukan kunjungan lapangan ke dua lokasi penerapan Agrivoltaic Photovoltaic (Agri-PV) di Bavaria. Sistem tersebut memungkinkan produksi listrik tenaga surya dilakukan bersamaan dengan aktivitas pertanian pada lahan yang sama melalui pemasangan panel surya di atas area budidaya maupun pembagian ruang antara lahan pertanian dan instalasi panel surya.

Menurut Muryono, pengalaman tersebut memberikan pembelajaran penting bagi Indonesia yang tengah menargetkan kapasitas pembangkit listrik tenaga surya hingga sekitar 180 gigawatt-peak (GWp) sebagai bagian dari agenda Net Zero Emissions 2060. Di sisi lain, Indonesia juga dihadapkan pada tantangan menjaga ketahanan pangan sehingga pemanfaatan lahan harus dilakukan secara optimal. “Dari kunjungan tersebut terlihat bahwa produksi energi dan pertanian dapat berjalan secara berdampingan dengan desain panel, jarak antarpanel, dan ketinggian struktur yang tepat,” ujarnya.
Temuan tersebut dinilai sangat relevan dengan pengembangan Renewable Energy Integration Demonstrator of Indonesia (REIDI) milik ITS. Fasilitas riset tersebut tengah mengembangkan laboratorium agrivoltaik yang mengintegrasikan pembangkit listrik tenaga surya dengan sektor pertanian dan akuakultur sebagai model pemanfaatan lahan secara berkelanjutan.
Selain memperoleh wawasan teknologi, delegasi Indonesia juga membangun komunikasi langsung dengan berbagai perusahaan penyedia teknologi energi surya, kontraktor rekayasa, hingga lembaga pengembangan Jerman. Hubungan tersebut diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi penelitian, investasi, transfer teknologi, maupun pengembangan proyek energi terbarukan di Indonesia.
Sebagai tindak lanjut dari kunjungan di Munich, delegasi GIZ turut mengunjungi fasilitas REIDI ITS di Surabaya. Pada kesempatan tersebut, GIZ meninjau platform terpadu yang menggabungkan pembangkit listrik tenaga surya, budidaya tanaman agrivoltaik, dan perikanan dalam satu kawasan riset. Platform tersebut memiliki kapasitas budidaya sekitar 48 ribu ekor ikan nila yang terintegrasi di bawah struktur panel surya serta 120 titik tanam agrivoltaik. Kehadiran fasilitas tersebut menjadi contoh implementasi konsep pemanfaatan lahan terpadu yang relevan dengan hasil pembelajaran dari Jerman.
Ke depan, ITS bersama GIZ dan para mitra nasional berencana memperkuat kerja sama melalui pertukaran pengetahuan mengenai desain agrivoltaik, pengembangan riset bersama, serta penguatan kapasitas dalam penyusunan kebijakan dan implementasi proyek energi terbarukan. Langkah ini diharapkan mampu mendukung percepatan transisi energi Indonesia sekaligus menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi bersih dan ketahanan pangan nasional.
Upaya tersebut sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-7 (Energi Bersih dan Terjangkau), poin ke-2 (Tanpa Kelaparan) melalui penguatan sistem pertanian berkelanjutan, poin ke-9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui kolaborasi riset dan inovasi teknologi, serta poin ke-17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan kerja sama strategis antara ITS, GIZ, pemerintah, dan mitra internasional. (*)
HUMAS ITS