Suara gamelan dipadukan dengan peralatan band mengiringi pembukaan Material Career Confrence di Balai Pemuda. Acara yang berbentuk talk show ini bertajuk ‘Kebijakan Negara di Bidang Riset dan Teknologi Untuk Meningkatkan Daya Saing Lulusan di Dunia Kerja’. Talk show ini mendatangkan pembicara yang berasal dari Departemen Kementrian Riset dan Teknologi, PT Semen Gresik, dan Pembangkit Jawa Bali (PJB).
Dimas Prayudi selaku panitia menuturkan bahwa talk show ini bertujuan agar terjadi interaksi yang lebih efektif antara peserta dan pembicara. Acara ini dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama adalah trik jitu sukses menjadi lulusan berkompeten di dunia kerja. "Sedang sesi terakhir mengenai kebijakan negara di bidang riset dan teknologi untuk meningkatkan daya saing," papar Dimas.
Dalam acara ini, tiga pembicara duduk santai di depan peserta layaknya talk show dilyar kaca. Mereka secara bergantian menuturkan mengenai dunia kerja dan persaingannya. "Dunia kerja tidak hanya membutuhkan hard skill tetapi juga soft skill," papar Adi Supriono sebagai dirut SDM dan administrasi PT PJB. Adi juga memberi tips saat tes wawancara kerja lebih baik berbicara jujur apa adanya dan jangan mencoba untuk sok tahu.
Amin Subradio sebagai deputi departemen kementrian ristek juga mengkritisi tentang lulusan yang kompeten. "Jika ada yang bekerja tidak sesuai dengan profesinya bisa dikatakan gagal," ujar Amin. Amin memberi contoh banyak lulusan di bidang pertanian tidak bekerja di bidangnya, sehingga sektor tersebut kurang berkembang dengan baik.
Menurut Amin, lulusan harus menjadi orang yang kompeten dan berkomitmen terhadap bidang profesinya. "Bila lulusan kreatif dan inovatif, masih banyak hal yang bisa dikerjakan termasuk membuat lapangan kerja," lanjut Amin.
Tidak hanya berbicara soal lulusan, dalam acara ini dibahas pula mengenai pasar di Indonesia. Fakta yang dikemukakan Amin bahwa produk asing sudah menyebar luas di Indonesia. "Kita mengklaim bahwa sudah bisa mengekspor mobil. Tetapi ternyata bahan dari mobil itu sendiri diimpor dari luar negeri," papar Amin.
Puluhan peserta yang berasal dari kalangan umum mengajukan berbagi pertanyaan ke pembicara. "Mengapa Indonesia meminta negara lain seperti Australia untuk membuat vaksin dari flu burung? Lalu Australia menjual dengan harga yang mahal," tanya Eka, mahasiswi fakultas kedokteran umum UNAIR. Untuk pertanyaan ini, Amin menyatakan bahwa Indonesia belum sanggup untuk membuat vaksin sendiri dikarenakan prosesnya yang mahal.(el/nrf)