Seperti tahun sebelumnya, Semarak Mahasiswa Perkapalan 4 (Sampan 4) ITS kembali menggelar dialog interaktif. Tak tanggung-tanggung, selain menghadirkan tokoh nasional, dialog ini menghadirkan juga orang-orang yang memiliki andil bidang maritim, yakni pihak pemerintah, perusahaan kapal, dan pemberi dana.
Bagi orang yang awam dengan dunia maritim, Indonesia mungkin dianggap sudah mencapai sukses. Padahal, banyak hal yang perlu dibenahi dari berbagai segi. Ir Soerjono MM sebagai pembicara pertama turut mengungkap kondisi industri perkapalan Indonesia.â€Kebutuhan kapal dalam negeri ini semakin meningkat. Seperti kebutuhan untuk Alutsista (sistem pertahanan, red). Namun, investasi dari perbankan masih kurang,†ungkap Direktur Industri Maritim dan Jasa Keteknikan tersebut.
Selanjutnya, Sekretaris Jenderal Indonesia Shipbuilding and Offshore Association (IPERINDO), Ir Wing Wirjawan juga mengupas industri galangan kapal sebagai salah satu prospek industri yang menjanjikan. “Industri perkapalan juga berperan sebagai infrastruktur dari keberadaan pelabuhan. Sehingga sangat disayangkan jika industri galangan kapal ini belum berkembang,†keluhnya.
Sedang proses pembangunan kapal itu sendiri disampaikan secara khusus oleh Koordinator Pembangunan Kapal Pertamina Shipping, Ir Soebagjo H Moeljanto. “Ada tiga struktur organisasi utama yang memiliki job desk masing-masing dalam pembuatan kapal, yaitu perencanaan, pengawasan, dan penunjang teknis dan formalitas,†lanjutnya sambil mengungkap kebijakan dasar dalam pengadaan tanker.
Sebagai pihak yang turut memiliki andil besar dalam perkembangan industri perkapalan, Nasrizal Nazir SE MBA dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk ikut menyampaikan kenaikan kredit angkutan umum laut. “Ada banyak aspek dalam pembiayaan perkapalan dimana ada keseimbangan antara cost, quality, dan delivery,†tutur Nazir.
Pernyataan keempat pembicara memang harus dibahas dengan tuntas. Mengingat industri galangan kapal sebagai peranan penting dalam pengadaan sistem pertahanan negara, Menteri Perindustrian Indonesia, MS Hidayat mengupas pengembangannya kedepan. “Dalam jangka menengah, sasaran Industri perkapalan Nasional sampai dengan kapasitas 150 ribu DWT. Oleh karena itu, pasar dalam negeri harus menjadi base load pengembangannya,†jelasnya.
Dalam dialog ini diharapkan terdapat solusi untuk keluhan berbagai pihak. Bahkan mahasiswa sebagai orang yang nantinya memiliki andil tutur larut dalam perbincangan tersebut dengan antusias. Salah satunya, Ayyu Fityatin LH. “Meski saya bukan belajar basic industri perkapalan, tapi saya tertarik dengan perkembangan industri perkapalan Indonesia,†ungkap mahasiswa Teknik Kimia tersebut. (esy/nrf)