Ditemui di sela-sela acara, Mohammad Ihsan selaku Sekjen Klub Guru Indonesia menjelaskan tentang latar belakang gerakan SUS. Di beberapa daerah, semakin banyak anak tak bersekolah karena ketiadaan biaya transportasi. â€Apalagi makin lama harga BBM terus naik otomatis biaya trasnportasi yang diperlukan siswa semakin mahal,†terang Ihsan.
Untuk itu Gerakan SUS digagas dalam rangka memenuhi kebutuhan biaya transportasi murah bagi siswa. â€Sekaligus dapat mengurangi dampak pemanasan global agar menjadi seminim mungkin,“ lanjut Ihsan. Dari ide itulah konsorium SUS terbentuk. Konsorium SUS beranggotakan ILUNI, Bike to Work (B2W), Klub Guru, dan Centre for the Betterment of Education.
Ini adalah kedua kalinya gerakan SUS dilaksanakan. â€Yang pertama di jakarta, tanggal 22 Febuari nanti rencananya di Gresik,“ terang Ihsan. Hingga saat ini ini gerakan SUS sudah membagiakan 1300 sepeda untuk siswa SD dan SMP. Dengan rincian, 1000 sepeda adalah sumbangan Pertamina dan sisanya berasal dari Perkumpulan atau donatur pribadi. Pada gerakan SUS kali ini dari 100 sepeda yang dibagikan 50 sepeda berasal dari IKA ITS. “Kami berharab ke depannya IKA ITS dapat bergabung dengan Konsorium SUS ini,“ ujar Ihsan sambil terseyum.
Ditemui di tempat yang sama, Ahmad Basori, salah satu anggota dari klub B2W menjelaskan bahwa gerakan SUS kali ini diadakan di ITS akibat kerjasama yang terjalin antar IKA ITS dan Konsorium SUS. “Dan juga banyak dari anggota B2W yang aktif adalah mahasiswa ITS, jadi mudah untuk koordinasi,“ jelas Ahmad.
Pada mulanya, sepeda yang dibagikan pada gerakan SUS ini berasal dari kocek pribadi para anggota konsorium. Tidak jarang, sepeda yang tidak terpakai milik para anggota akan diperbaiki dan diberikan pada siswa SD atau SMP. Para anggota konsorium melakukan sosialisasi gerakan SUS ke berbagai pihak. Kerja keras mereka terbayar simpati dan dana pun mengalir dari berbagai pihak.
â€Yang pasti, kami ingin memberikan yang terbaik,“ terang Ihsan kemudian. “Alhamdullillah sejauh ini pemerintah surabaya sangat welcome dengan gerakan SUS, walaupun di beberapa daerah lain kami mengalami hambatan birokrasi,“ cerita Ihsan lagi.
“Kami sangat terbantu dengan adanya gerakan SUS ini, karena 80 % murid kami berangkat ke sekolah memang menggunakan sepeda. Lagi pula siswa kami kebanyakan berasal dari kalangan menengah ke bawah,“ aku Sri Pabekti Rahayu, salah satu guru pada SD Kedangsari IV Surabaya. Pada kesempatan ini, SD Kedangsari IV menerima lima buah bantuan sepeda dari gerakan SUS. “Moga-moga gerakan seperti ini bisa lebih digalakan lagi. Terimakasih untuk konsorium SUS dan IKA ITS,“ ujar Sri sambil terseyum. (Az/mtb)