HE Dra R A Esti Andayani mengatakan saat ini sudah bukan saatnya menyosialisasikan Masyarakat Eknomi ASEAN (MEA) tetapi lebih kepada pembentukan negara berkualitas standar ASEAN. Tugas ini, lanjutnya, adalah pekerjaan rumah pemerintah untuk bisa menciptakan kualifikasi yang bagus untuk dapat bersaing. "Kalau sudah memenuhi standar, jangan takut kalah dengan negara tetangga, jadilah pemberani,” seru Ditjen Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Hubungan Luar RI ini.
Setelah standar, menurutnya, masih ada bidang lain yang perlu untuk diperkuat yakni perihal konektivitas. Semua orang bisa berkontribusi apa saja, tidak harus menunggu komando dari pemerintah, terkhusus para kaum muda. Sudah saatnya, ujar Esti, anak muda diberdayakan perannya dalam memperbaiki kondisi bangsa. "Ketimpangan antara barat dan timur sungguh ironi, oleh karena itu, konektivitas sangat dibutuhkan,” jelas perempuan kelahiran Yogyakarta ini.
Senada dengan Esti, Prof Dr Makarim Wibisono MA-IS MA juga mengatakan tujuan utama dari pembentukan MEA adalah sebagai jalan untuk menciptakan negera-negara yang damai nan sejahtera di lingkup Asia Tenggara. Namun, permasalahannya adalah apakah semua negara mampu tumbuh dan berkembang secara berbarengan atau tidak. Sebab, prinsip kesetaraan yang dipegang ASEAN tak terlepas dari kerjasama yang baik antar negara. "Makanya ada mutual agreement yang akan menyelaraskan jalur dan tujuan negara masing-masing,” ujar Mantan Eksekutif Direktur Departemen Hubungan Luar ASEAN Foundation ini.
Di samping itu, imbunya, tetap perlu adanya second track solution yang akan membantu pemerintah dalam mengaktualisasikan tujuan negara. Istilahnya, selain pemerintah, masyarakat umum dan kaum muda juga seyogyanya memiliki cara-caranya sendiri untuk mengembangkan kemampuannya. "Jadi, tidak semata bertumpu pada arahan pemerintah,” terang Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Airlangga ini. (owi/man)