Whilda Kamila Sari, Dita Amelia, dan Ardhiansyah Baskara mulai merancang ARGYS pada tahun ini. Awalnya, ARGYS ditujukan untuk berkompetisi dalam Pekan Ilmiah Nasional Mahasiswa bersama dua orang lainnya.
Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Karsa Cipta (KC) ini pun berhasil didanai oleh Direktorat Jenderal (Ditjen) Pendidikan Tinggi (Dikti). Gagasan ini kemudian diikutkan dalam kompetisi yang diselenggarakan Lingkar Studi Mahasiswa Ekonomi dan Bisnis Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya.
Konsepnya, ARGYS merupakan visualisasi peta penyebaran penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Jawa Timur. Dengan ARGYS, petugas Dinas Kesehatan dapat memasukkan informasi mengenai penyakit ISPA ke dalam sistem. Informasi itu dapat berupa kejadian ISPA beserta penyebabnya.
Tim yang beranggotakan multi angkatan ini menentukan empat faktor penyebab ISPA di Jawa Timur. Keempatnya adalah asupan vitamin A, kepadatan hunian, polutan, dan curah hujan. Tak hanya itu, sistem ini dapat memberikan informasi mengenai ISPA untuk masyarakat. Inilah yang menjadi tujuan utama ARGYS. Sebabnya, penyebaran penyakit ISPA mencapai angka yang tinggi di Jawa Timur, lebih dari 75 ribu kasus pada tahun 2012.
”ISPA juga sampai beresiko kematian, jumlahnya 15 kali lebih banyak daripada Demam Berdarah (DB). Tapi sekarang ini DB yang ditangani lebih fokus dan intensif,” tutur Whilda. Untuk menjadi peringatan dini, ARGYS pun dapat diakses oleh masyarakat.
Tujuan itu tak begitu saja dapat diwujudkan. Menurut Whilda, timnya pasti memerlukan kerja sama dengan berbagai pihak. ”Kami perlu data curah hujan dari BMKG, data polutan, dan lain sebagainya dari pihak yang terkait,” kata mahasiswa Jurusan Statistika ini.
Bersama Dita yang juga berasal dari Jurusan Statistika, Whilda menguji faktor penyebab ISPA menggunakan metode Geographically Weighted Regression (GWR). Sedangkan Ardhiansyah berperan dalam menyusun aplikasi berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk ARGYS. ”Tim kami beragam, ada Ardhiansyah dari Jurusan Teknik Informatika. Ini juga yang menjadi kekuatan gagasan kami,” ujar Whilda.
Selain itu, Whilda juga menuturkan bahwa timnya memiliki gambaran sistem yang jelas di antara sebelas peserta final lainnya. ”Mungkin itu juga yang menyokong kami dari nilai presentasi yang kurang,” katanya. (set)