Antara Bejo, Timnas dan Slank

Published on
By

Tulisan ini akan saya awali dengan sebuah kisah. Saya hendak bercerita tentang seorang teman ketika duduk di bangku SMA dulu. Sebut saja nama seorang teman ini dengan Bejo. Ya! Bejo punya segalanya untuk disombongkan, mulai tampang yang oke, gaya mengikuti tren, otak sepadan dengan Einsten, serta berasal dari keluarga ningrat pula. Di kelas pun Bejo anak yang pandai, dan disenangi oleh banyak guru. Nilai raportnya hampir dipenuhi dengan nilai sembilan, tanpa ada nilai merah yang menodainya.

Di lapangan hijau, Bejo adalah playmaker yang handal. Tidak berani pelatih di SMA saya untuk mencadangkannya sekali pun. Prestasinya di lapangan sepakbola pun terbawa ke kehidupan asmaranya , bak Cristiano Ronaldo, Bejo pun menjelma menjadi playboy kelas Kakap.  Sebagai playmaker, tidak hanya mengatur permainan saja keahilan kawan saya ini rupanya. Namun termasuk mengatur urusan kisah asmaranya, keahliannya ini telah menjadi tambahan spesialisasi  Bejo, setelah tendangan bebasnya yang sering merobek jala gawang lawan. Entah berapa hati cewek yang telah dirobek oleh si Bejo ini.

Cowok pemberani ini tak gampang untuk didebat, Bejo mempunyai kepercayaan diri yang sangat tinggi. Mungkin karena apa yang diinginkannya nyaris selalu terwujud dan tercapai. Buat Bejo yang gaya rambutnya mengikuti David Beckham tahun 2000-an ini, nyaris tak ada masalah yang tidak dapat diselesaikannya. Tak ada hambatan yang tak dapat diatasi oleh Bejo. Serta tak ada rintangan yang tidak bisa dilewatinya.

Sebagai seorang sahabat saya akhirnya mendapatkan sedikit rahasia sukses si Bejo ini. Suatu hari Bejo berkata, "Aku bukannya tidak bisa gagal atau kalah, tapi aku tak biasa gagal dan kalah. Aku selalu berusaha menjadi nomor satu!". Agak terkaget juga saya setelah mendengar alasan Bejo, terdengar sedikit arogan dan egois apa yang diutarakan si Bejo itu menurut saya.

Namun saya telah menyadari, ternyata dengan prinsip yang sepintas arogan dan egois tersebut menjadi modal bagi Bejo untuk meraih sukses dalam segala hal. Ada luapan energi yang besar dikeluarkan oleh Bejo, sehingga energi tersebut dapat menghindarkan Bejo dari kegagalan dan kekalahan dalam hidupnya. Bejo selalu mempelajari semua hal dengan matang, cermat, dan lengkap sebelum mengerjakan sesuatu. Bisa dikatakan Bejo bersiap untuk menang.

Boleh dibilang inilah yang dimaksud dengan mental juara. Sikap yang menuntut untuk selalu menjadi pemenang yang memang sulit sekali dipraktekkan. Lihat, betapa gusarnya Jose Mourinho ketika timnya Inter Milan mengalami kekalahan 1-2 dengan Juventus di Derby D\\\’italia minggu lalu. Saking marahnya, Mourinho pun mendiamkan timnya seharian bisu tanpa berbicara. Betapa tertekan Inter Milan saat itu, apalagi ditambah dengan terpojoknya posisi mereka di Liga Champions Eropa.

Namun setelah kekalahan itu, seluruh jajaran Inter Milan melakukan evaluasi dan mengkoreksi diri untuk segera kembali ke jalur yang benar. Tak ada istilah berlama-lama dalam sesal. Alhasil pada pertandingan penting melawan Rubin Kazan di Liga Champions Mourinho memakai formasi 4-3-3. Sebuah formasi yang tidak biasa digunakan oleh Inter Milan dengan memasang tiga penyerang sekaligus. Siapa yang menduga dengan formula baru itu Inter Milan berhasil menaklukkan Rubin Kazan dengan skor 2-0. Padahal Rubin sendiri adalah kuda hitam paling berbahaya tahun ini, Barcelona yang juara bertahan Liga Champions pun mampu dikalahkan tim dari Rusia ini.

Maka, betapa mengherankannya jika tim nasional (Timnas) Indonesia tak kunjung bangkit dari keterpurukan yang sudah sangat menua. Setelah sempat bermain menjanjikan dengan manahan imbang Singapura 2-2 pada pertandingan pembuka Sea Games XXV Laos, Indonesia dipermalukan 0-2 oleh tuan rumah Laos. Kekalahan terhadap Laos ini tentunya menjadi coreng dimuka sepakbola Indonesia. Betapa tidak sepanjang Republik ini berdiri dengan Timnas-nya belum pernah sekalipun Laos mampu mengalahkan Indonesia.

Boaz Salosa dan kawan-kawan semakin menderita ketika dibantai Myanmar 1-3, kekalahan ini memastikan Timnas untuk 2 kali berturut-turut tidak lolos dari fase penyisihan grup Sea Games dengan menjadi juru kunci. Jika konteks ini bisa disamakan dengan ucapan si Bejo diatas, sepertinya kita pencinta sepakbola nasional sudah dibiasakan untuk berpikir biasa kalah. Bahkan mungkin justru terkaget-kaget jika Timnas kita pulang dengan membawa kemenangan serta menjadi juara.

Boleh jadi itu juga mewakili perasaan Slank.Grup band yang digawangi Kaka cs ini, yang semua personelnya gilbol (Gila Bola). Beberapa dari mereka adalah suporter garis keras Timnas kita, Ridho misalnya. Sang Gitaris ini selain gemar bermain musik, ternyata fanatik terhadap sepakbola Indonesia. Mungkin kalau boleh saya menebak lagu I miss u but I hate itu juga terinspirasi dari kisah Timnas kita.

Lagu yang liriknya mengangkat tema rindu tapi benci. Rindu setengah mati kepada pujaan hati, tapi juga benci "setengah hidup" karena cinta tak kunjung dibalas. Dalam sepakbola, begitulah perasaan kebanyakan masyarakat kita pada sepakbola nasional. Paling tidak, sedikit banyak masih ada yang fanatik dengan sepakbola kita. Ini terlihat dengan semangat persatuan serta kebersamaan Timnas dan pencinta sepakbola Indonesia di Piala Asia yang lalu. Bulu kuduk saya merinding menyaksikan atmosfernya, meskipun saya menonton lewat layar TV saja. Hampir tumpah air mata ini ketika Indonesia Raya dikumandangkan di Gelora Bung Karno.

Itulah kerinduan kita, kerinduan masyarakat Indonesia melihat sang Garuda terbang tinggi di pentas dunia. Sayang, kerinduan itu mirip lagu Slank sering dikecewakan oleh hasil buruk Timnas. Namun Itulah Timnas kita. Disatu sisi banyak damba, harap, dan cinta tapi disisi lain sarat kecewa, amarah, serta frustasi karena tak kunjung memberikan kebanggaan dan prestasi.

Ironi memang, teman saya si Bejo tadi tidak menjadi salah satu pengurus PSSI era sekarang. Padahal siapa tahu, kecintaannya dengan Timnas dan prinsipnya yang arogan nan egois bisa menciptakan iklim positif di Timnas kita. Mungkin Bejo dapat menularkan prinsip "tak biasa kalah" tadi ke Timnas, boleh jadi target medali emasi di Sea Games XXV Laos bisa tercapai. Dan siapa tahu lagi, Timnas kita bisa cepat bangkit dan segera punya mental juara dan prestasi gemilang.

**dikutip dan terinspirasi dari beberapa sumber serta referensi

Foto : www.bola.kompas.com

Fajjar Nuggraha
Mahasiswa Teknik Sistem Perkapalan ITS

Selamat berjuang Timnas Indonesia, rasa cinta ku lebih besar dari rasa benci dengan mu

×