Aku dan Kacamata Penyejuk Hati

Published on
By

Hari ini aku sudah berjanji untuk bertemu teman-temanku. Kami memang berencana akan berjalan-jalan mengisi liburan semester, window shopping dan makan siang bersama di salah satu pusat perbelanjaan di Bilangan Surabaya.

Lagi-lagi ketika aku meminta ongkos dan jatah jajan liburanku, ibuku hanya melempar senyum dengan enggan. Alasan yang akan dilontarkan beliau selalu sama. ”Buat beli beras aja susah kak. Kok ya, malah dipakai jalan-jalan," ungkap ibuku dengan senyuman.

Jika sudah begitu aku pun sungkan untuk menuntut. Terpaksa aku menggunakan uang tabunganku untuk liburan kali ini. Untuk lebih menghemat dan mengganjal rasa lapar sebelum waktunya makan siang, aku pun memilih untuk sarapan terlebih dulu.

Kurang begitu sedap. Aku seperti kehilangan nafsu makanku sejak suapan pertama. Kata ibu harga beras yang dimasak ini mahal harganya, sekira Rp 6 ribu per liternya. Enam ribu rupiah untuk satu liter beras yang biasanya berkualitas baik, sekarang rasanya lebih mirip beras gagal panen.

Warnanya kekuningan, banyak batunya dan berbau apek. Bahkan aku mulai tidak yakin kualitas dan kandungan gizi yang masih dikandung beras tersebut. Tidak dapat aku bayangkan bagaimana dengan nasib penerima raskin (beras untuk rakyat miskin),  akan seperti apa beras yang dimasaknya.

Sejenak setelah sampai di pusat perbelanjaan, kulupakan rasa nasi yang kumakan sarapan tadi.

Kontras. Sangat kontras. Katanya Indonesia sedang mengalami instabilitas perekonomian yang berdampak pada naiknya harga. Berita nasional pun menyiarkan hasil wawancara dengan ibu rumah tangga dan para pegawai kantor, yang sebagian besar berisi keluh kesah bagaimana tuntutan hidup melangit dan kecenderungan besar pasak daripada tiang yang mereka hadapi, serta kekecewaan terhadap pemerintah yang terlihat mengabaikan nasib rakyat.

Mereka bilang untuk membuat dapur tetap mengepul saja sulit, tapi nyatanya pusat perbelanjaan masih sangat ramai. Kendaraan roda empat keluaran terbaru masih memadati lahan parkir. Tidak sedikit pengunjung memamerkan ponsel new entry yang harga belinya masih tinggi.

Banyak pula pengunjung yang datang layaknya manekin berjalan, mengenakan beragam merk busana ternama ditambah aksesoris berkilauan. Jadi, sebegitu parahkah dampak kenaikan harga pangan yang akhir-akhir ini heboh dibicarakan?,  rasanya ada yang janggal.

Kesenjangan nyata terlihat, mana si kaya dan mana si miskin. Ketika si kaya dapat dengan nikmatnya makan nasi pulen dengan aroma pandan yang nikmat, terlalu dekat dengan dirinya si miskin hanya mengelus perutnya masih menunggu datangnya rizki untuk sekedar membeli beras berkutu.

Jelas pula terlihat tidak adanya perbedaan daya beli pengunjung yang signifikan pasca kenaikan harga. Yah, terbesit perasaan cemburu. Agaknya lucu jika membicarakan penderitaan dan kesulitan rakyat, padahal populasi si kaya masih banyak. Apakah kepekaan untuk berbagi mulai tidak ada atau memang sistem ekonomi di Indonesia sedemikian rupa hanya untuk si kaya?.

Mari kembali wacanakan makna dari landasan konstitusional negara ini, UUD 1945. Di dalam pasal 33 UUD 1945 telah ditegaskan bahwa kesejahteraan adalah milik masyarakat bukan milik perorangan dan bukan milik si kaya saja. Dalam konteks negara pun telah diamanatkan untuk menciptakan serta menjamin pemerataan kemakmuran rakyat, sehingga mekanisme dan kebijakan pasar seharusnya tetap berpegang pada kepentingan rakyat banyak.

Sebagaimana mengutip tulisan Arimbi HP dan Emmy Hafild mengenai aplikasi pasal 33 UUD 1945 yang diterbitkan oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia. ”Keterlibatan rakyat dalam kegiatan mengelola sumber daya hanya dalam bentuk penyerapan tenaga kerja oleh pihak pengelola sumber daya alam”. Jika sudah begitu, maka tidak mengherankan ketika sumber daya alam dan hasil pengelolaannya hanya dapat dinikmati oleh sekelompok orang saja (si pengelola ya si kaya ya para pemilik modal). Dampaknya tentu saja seperti yang terjadi sekarang ini, yang kaya semakin kaya yang miskin semakin merana.

Mungkin pemerintah sedang lalai. Sedang khilaf. Sedang kurang sedikit peka di masa ini. Begitulah sekiranya seorang sahabat berkata kepadaku agar mampu memandang kondisi berkebalikan ini secara bijak. Namun, memang harus dilihat pula Indonesia ternyata masih berpeluang. Bank Indonesia tetap konsisten membawa angin segar mengenai pertumbuhan ekonomi di tahun 2011 yang akan terus meningkat.

Bahkan, menurut presiden RI pun inflasi dapat ditekan serendah mungkin oleh pemerintah dan harga kebutuhan pokok akan stabil nantinya serta terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.

Mengeluh sepertinya tidak ada artinya apalagi mengutuk ketidakmampuan diri. Hanya penyakit hati yang muncul. Akhirnya, aku pun melepas kacamataku. Penglihatanku kabur. Aku tidak lagi jelas melihat kemewahan di sekelilingku.

Tidak lagi dapat membedakan si kaya dan harta-harta yang dibawanya. Tidak lagi dipusingkan dengan kemegahan si kaya di tengah-tengah compang campingnya si miskin. Untuk sejenak, ini adalah alternatif terbaik untuk melembutkan hatiku.

Dan mungkin aku melihat kesejangan itu sekarang, namun tidak alasan bagiku untuk tidak terus berjuang dan berusaha di tengah kerasnya kesulitan ekonomi yang melanda.

Siti Hajar
Mahasiswa Politeknik Elektonika Negeri Surabaya angkatan 2010

×