
Kampus ITS, Opini — Tepat hari ini, dunia serentak memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Dengan tema global Our Land Our Future, kita kembali dihadapkan pada sebuah refleksi yang menyentuh jantung eksistensi kita. Meskipun tanah dan air adalah satu kesatuan sistem penopang kehidupan yang tidak terpisahkan, kenyataanya air bersih bukan lagi sesuatu yang bisa kita anggap sudah pasti ada.
Dari riak sungai-sungai di Indonesia hingga samudra luas, pencemaran air telah bermutasi menjadi ancaman yang perlahan-lahan menggerogoti masa depan bumi ini. Sekitar 2 juta ton limbah menjadi bukti situasi yang mengerikan tiap harinya. Jumlah yang cukup banyak ini menunjukkan limbah domestik, industri, dan pertanian yang dibuang ke perairan dunia.
Ironisnya lagi, laporan United Nations Environment Programme (UNEP) 2021 mencatat bahwa 80 persen air limbah global dibuang begitu saja tanpa lewat proses pengolahan. Ini bukan sekadar statistik abstrak di atas kertas. Potret nyata ini tentang anak-anak yang terpaksa meminum air sumur terkontaminasi, nelayan yang kehilangan jaring rezekinya, serta runtuhnya ekosistem air satu per satu.
Potret Muram di Indonesia
Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 5.500 aliran sungai, Indonesia justru berada di titik nadir krisis hidrologi. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memberikan sinyal merah ke berbagai aliran sungai di Indonesia. Sungai besar di Pulau Jawa sendiri, kini berstatus sebagai sungai yang tercemar berat hingga sangat berat.
Salah satu sungai yang paling tersemar adalah Sungai Citarum di Jawa Barat. Aliran sungai yang menjadi urat nadi bagi 30 juta jiwa penduduk ini, sempat dinobatkan oleh lembaga internasional sebagai salah satu sungai paling tercemar di dunia. Di sana, lebih dari 2.000 industri tekstil beroperasi dan menggelontorkan ribuan ton pewarna sintetik serta logam berat seperti timbal, merkuri, dan kadmium yang melampaui ambang batas aman langsung ke sungai.
Pemerintah Jawa Barat sejatinya telah menginisiasi program Citarum Harum sejak 2018 silam. Kini, langkah tersebut mulai menunjukkan tren positif yang ditandai dengan penurunan indeks pencemaran. Meskipun demikian, pemulihan total untuk sungai tetap membutuhkan waktu puluhan tahun serta komitmen sistemik yang tak boleh berhenti di tengah jalan.
Ancaman pun tidak hanya datang dari apa yang tampak di permukaan. Di bawah kaki kita, air tanah sedang menghadapi leachate atau invasi lindi. Cairan hitam pekat beracun dari tumpukan sampah Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) ini meresap hingga puluhan meter ke dalam sedimen atau akuifer tanah. Bagi jutaan warga yang belum terjangkau layanan PDAM, air tanah berlogam berat inilah yang terpaksa dikonsumsi.
Belum lagi jika kita menengok Sidoarjo, Jawa Timur. Tragedi semburan lumpur panas yang meletus sejak 29 Mei 2006 terbukti menjadi bom waktu hidrogeologis. Fluida panas bertekanan tinggi yang membawa senyawa toksik, terus merembes secara aktif mengontaminasi sumur-sumur warga dalam radius puluhan kilometer. Fenomena ini menjadi alarm bahwa pencemaran air tanah tidak hanya bermula dari pabrik, tetapi juga terpicu oleh kegagalan kita mengelola risiko geologi.
Krisis Multidimensi secara Global
Krisis ini bukan monopoli negara berkembang. Tragedi Flint di Michigan, Amerika Serikat pada 2014 hingga 2019 membuktikannya bahwa kegagalan tata kelola infrastruktur memaksa puluhan ribu warga berpendapatan rendah mengonsumsi air terkontaminasi timbal. Dampak neurologis yang ditimbulkan kontaminasi ini masih dirasakan pada anak-anak hingga kini.
Di skala global, dunia juga dicemari per-and polyfluoroalkyl substances (PFAS) alias bahan kimia selamanya yang memicu kanker. Sumber air minum lebih dari 45 negara juga turut terkontaminasi menurut regulasi Environmental Protection Agency (EPA) 2024. Di atas semua itu, sains modern kini mengkhawatirkan musuh baru yang tak kasat mata, mikroplastik.
Partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter itu telah menjajah hampir seluruh ekosistem perairan, mulai dari Danau Toba yang anggun hingga Samudra Arktik yang beku. Sebuah studi di jurnal Science of the Total Environment pada 2023 bahkan menemukan mikroplastik di dalam jaringan ikan konsumsi di pesisir Jawa. Pesan eksplisit ini membuktikan bahwa plastik yang kita buang ke laut telah kembali ke meja makan kita sendiri.
Memutus Rantai Perusakan
Menghadapi krisis sekompleks ini, solusi tunggal maupun jargon normatif tidak lagi relevan untuk diandalkan. Pemerintah wajib memperketat regulasi limbah industri tanpa kompromi sekaligus berinvestasi masif pada infrastruktur dan teknologi pemantauan perairan modern yang noninvasif. Di sisi lain, inisiatif pengelolaan daerah aliran sungai berbasis komunitas di tingkat akar rumput harus terus didorong demi mempercepat pemulihan.
Namun, perubahan tidak bisa hanya ditunggu dari atas. Di level rumah tangga pun, setiap individu memegang peran nyata. Aksi sekecil membuat lubang biopori dan sumur resapan di pekarangan dapat membantu air hujan meresap kembali ke akuifer alih-alih menjadi limpasan yang membawa polutan ke sungai. Penggunaan produk rumah tangga berlabel ramah lingkungan juga mengurangi beban kimia yang masuk ke saluran drainase.
Dari sisi perilaku, memilah sampah organik dan anorganik dapat membantu mencegah lindi beracun terbentuk di TPA. Tidak membuang minyak goreng bekas atau obat kedaluwarsa ke saluran air juga menjadi tindakan kecil yang berdampak besar bila dilakukan jutaan rumah tangga serentak. Lebih dari sekadar menahan laju polusi, napas panjang konservasi air tanah pada akhirnya bermula dari hal kecil mematikan keran yang menetes.
Ada sebuah pepatah bijak yang mengatakan bahwa kita tidak mewarisi bumi ini dari nenek moyang, melainkan meminjamnya dari anak-cucu kita. Namun, melihat apa yang terjadi hari ini, pertanyaan besarnya adalah apakah kita akan mengembalikan air dan bumi ini dalam keadaan yang masih layak huni untuk mereka?
Mencemari air sama artinya dengan merampas masa depan anak cucu. Pilihannya kini ada di tangan kita semua. Sebagai individu, komunitas, pelaku industri, dan negara sudah menjadi tugas kita untuk memutus rantai perusakan ini sekarang juga, sebelum alam memutuskan untuk menyudahi kita. (*)
Ditulis oleh:
Ir Wien Lestari ST MT
Dosen Departemen Teknik Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember