
Kampus ITS, ITS News – Lestarikan permakaman bersejarah di Surabaya, tim Pengabdian Masyarakat (Abmas) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) membuat buku Peristirahatan Terakhir. Lewat karya ini, tim Abmas melakukan observasi terhadap tujuh situs permakaman bersejarah di Surabaya.
Ketua tim Abmas Atsilia Hasna Nabilah ST MA mengungkapkan bahwa Kota Surabaya memiliki berbagai situs permakaman bersejarah yang mencerminkan perjalanan sosial, budaya, dan arsitektural dari masa ke masa. “Namun, dokumentasi visual situs-situs tersebut masih terbatas sehingga mengurangi pemahaman masyarakat akan nilai sejarah dan urgensi pelestariannya,” jelasnya.
Maka dari itu, tim Abmas dibentuk untuk melestarikan situs permakaman bersejarah di Surabaya. “Pelestarian ini dilakukan dalam bentuk pembuatan buku dokumentasi sejarah sebagai media diskusi publik,” ujar Atsilia.
Perempuan yang kerap disapa Atsilia ini menjelaskan bahwa tim Abmas melakukan observasi dan dokumentasi secara langsung ke tujuh situs permakaman. Tujuh situs permakaman tersebut meliputi Kompleks Makam Sentono Boto Putih, Makam FJ Rothenbuhler, dan Kompleks Makam Eyang Kudo Kardono. “Dari tujuh situs permakaman tersebut, tim Abmas berfokus pada aspek historiografi, arsitektural, morfologi, dan stilistik,” terangnya.
Lebih lanjut, Atsilia menjelaskan agenda dimulai dari studi literatur mengenai historiografi, arsitektur, dan morfologi situs permakaman. “Setelah melakukan studi literatur, tim Abmas melakukan dokumentasi, pembuatan referensi desain, dan diskusi dengan masyarakat setempat,” imbuh dosen Departemen Desain Komunikasi dan Visual (DKV) ITS itu.

Setelah itu, tahapan selanjutnya adalah pengolahan data hasil penelitian dan dokumentasi guna menyesuaikan format referensi desain yang telah dibuat. Selanjutnya, tim Abmas melakukan uji kelayakan isi buku dengan melibatkan akademisi dan pakar yang berkaitan. “Saat ini, buku masih dalam proses pembuatan hak cipta,” tegas alumnus Universitas Nasional Cheng Kung tersebut.
Pada tahapan terakhir, Atsilia bersama tim Abmas menyelenggarakan diskusi publik untuk memperkenalkan buku ini sebagai upaya edukasi dan pelestarian budaya. Tim Abmas juga melakukan evaluasi terhadap isi buku melalui masukan dari para peserta. “Para peserta diskusi yang hadir adalah Komunitas Begandring Surabaya, Komunitas Indonesia Graveyard, dan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Surabaya,” sambung Atsilia.

Dalam kegiatan ini, Atsilia dibantu oleh tim yang terdiri dari empat dosen DKV ITS dan satu mahasiswa DKV ITS yang bekerja sama dengan TACB Surabaya. “Kami berharap pembuatan buku bisa menjadi sumber literasi serta, bahan diskusi publik seperti tim Peneleh dan lainnya yang menjadi pengingat akan eksistensi makam bersejarah,” ujarnya.

Sebagai penutup, Atsilia mewakili tim Abmas berharap buku ini dapat menjadi pemicu semangat literasi para pembaca dan membangkitkan nasionalisme dengan cerita di permakaman tersebut. Abmas ini menjadi bukti penguat komitmen ITS dalam Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4, yaitu Pendidikan Berkualitas. (*)
Reporter: Harri Raditya Ardianto
Redaktur: Thariq Agfi Hermawan