
Kediri, ITS News — Tim Pengabdian kepada Masyarakat (Abmas) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melaksanakan program pemberdayaan bagi pengrajin gula merah di UD Dewi Gendis, Desa Ngadi, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri pada 6 Desember 2025 lalu. Kegiatan ini mencakup pelatihan teknis, uji coba produksi, serta sosialisasi dan edukasi guna memperkuat kapasitas mitra dalam menjalankan proses produksi yang lebih efisien, higienis, dan berkelanjutan.
Kegiatan diawali dengan praktik lapangan pengoperasian sistem pemasakan nira berbasis pemanasan indirek (steam). Teknologi ini dirancang untuk menghasilkan pemanasan yang lebih stabil dan merata selama proses produksi. Berdasarkan uji coba di lokasi mitra, waktu pemasakan nira menggunakan sistem steam dapat dipersingkat menjadi sekitar 2,5 jam. Capaian tersebut dinilai lebih efisien dibandingkan metode tradisional yang umumnya membutuhkan waktu lebih lama akibat distribusi panas yang kurang stabil.

Selain implementasi teknologi, program Abmas ini juga diperkuat melalui rangkaian sosialisasi dan edukasi. Sosialisasi bertajuk Proses Pemasakan Gula Merah Berbasis Pemanasan Indirek disampaikan oleh Ketua Tim Pengabdi ITS Fadillatul Taufany ST PhD yang mengulas prinsip kerja pemanasan steam serta strategi pengendalian suhu agar proses pemasakan lebih konsisten.
Selanjutnya, anggota tim Dr Fahmi ST memberikan pemaparan terkait Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik untuk Industri Rumah Tangga (CPPB-IRT) guna meningkatkan pemahaman mitra mengenai aspek legalitas dan keamanan pangan. Edukasi kemudian dilengkapi dengan sosialisasi pengolahan limbah tamte (limbah nira hasil pemasakan) oleh anggota tim lainnya Wahyu Tri Amaliah Provito ST MT sebagai upaya mendorong pengelolaan limbah yang lebih ramah lingkungan.

Fadillatul Taufany menegaskan bahwa pendekatan pemberdayaan ini menitikberatkan pada kemandirian mitra melalui pelatihan berjenjang dan pendampingan pascakegiatan. “Dengan demikian, mitra tidak hanya mampu mengoperasikan teknologi baru, tetapi juga memahami standar keamanan pangan dan pengelolaan lingkungan yang mendukung keberlanjutan usaha,” ujar Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS yang biasa disapa Taufany ini.

Perwakilan mitra, Mashar Afani, menyampaikan apresiasi atas pendampingan dan teknologi yang diberikan ITS. Menurutnya, penerapan pemanasan steam tidak hanya meningkatkan kualitas gula merah dari segi warna, aroma, dan tekstur, tetapi juga menciptakan lingkungan kerja yang lebih bersih dan nyaman. Para pengrajin berharap program serupa dapat terus dikembangkan dan direplikasi agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat pengrajin gula merah di wilayah Kediri dan sekitarnya.

Melalui kegiatan ini, ITS turut berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Di antaranya adalah SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), dengan mendorong peningkatan daya saing UMKM berbasis inovasi teknologi dan praktik produksi berkelanjutan. (*)