Perubahan dimulai dengan satu langkah kecil. Setidaknya, pernyataan tersebut mampu mendorong panitia SGTS untuk tetap fokus mengentaskan anak-anak Suranaya dari putus sekolah. Tak kurang 32 anak putus sekolah di kecamatan Kenjeran sudah terbantu dengan keberadaan mereka.
PIMITS 13 menjadi lahan manis bagi panitia SGTS untuk menggalang dana. Dengan slogan buanglah uang pada tempatnya, sebuah kardus besar depan stan mampu menggugah hati para pengunjung. “Masih banyak orang yang tidak tahu jumlah anak putus sekolah di sekitar mereka terutama Surabaya,†ungkap Avief Nurrakhim, salah satu punggawa SGTS.
Sejak hari pertama PIMITS13 digelar (25/4), mereka menjual somay dan es dawet. Penggalangan dana lewat menjual makanan tak terhenti begitu saja di hari pertama. “Hari kedua kami menjual es dawet saja,†terang mahasiswa yang kerap dipanggil Avief. Hari ketiga pun mereka melakukan pembaruan. Bukan es dawet lagi yang mereka tawarkan, pilihan beralih ke nasi kuning dan es kopyor.
“Menjual makanan itu hal yang paling mudah untuk menggalang dana,†tutur Aviev sambil tersenyum. Hal itu diamini Oni Saputro, panitia SGTS lainnya. “Keuntungan penjualan makanan dapat kita sumbangkan. Kan lebih bermanfaat,†ujar mahasiswa Kimia 2009 tersebut.
Tak hanya menjual makanan, mereka juga berkeliling untuk menggalang dana. Dengan mengenakan baju anak SD yang dibuat dari kertas karton serta tali sebagai pengait, mereka pun mengajak serta punggawa BEM ITS lainnya berkeliling mendatangi pengunjung, seperti menteri Sosmas, ketua divisi Entrepreneur, dan sekretaris BEM ITS. “Kami memang ingin merangkul semua pihak BEM dalam aksi ini. Saya senang pihak BEM lainnya antusias menarik pengunjung,†lanjut Oni.
Ternyata, aksi dengan baju SD ini masih berlanjut hingga closing ceremony PIMITS13. Ditengah semarak pertunjukkan depan panggung, mereka kembali menggalang dana dengan cara serupa. Sebagian pengunjung yang berasal dari luar ITS pun turut berbagi.
“Kami mewacanakan pada mereka tentang program ini. Kami juga menjelaskan kalau uang yang diperoleh akan dirupakan seragam sekolah dan keperluan sekolah lainnya,†pungkas Oni sambil menyebutkan hasil penggalangan dana selama PIMITS13 berlangsung mencapai Rp 1 juta. (esy/yud)