Abmas ITS Sosialisasikan Pentingnya Mitigasi Ketika Petir Melanda

Published on
Tim Abmas ITS melakukan sosialisasi mengenai bahaya petir dan cara menanganinya kepada masyarakat Desa Ngendut, Ponorogo
By
Tim Abmas ITS melakukan sosialisasi mengenai bahaya petir dan cara menanganinya kepada masyarakat Desa Ngendut, Ponorogo

Kampus ITS, ITS News – Memasuki musim hujan, intensitas petir di beberapa daerah di Indonesia sedang tinggi, tak terkecuali Ponorogo. Saking seringnya, berbagai tragedi terjadi dan memakan korban jiwa. Menanggapi bencana alam tersebut, tim Pengabdian Masyarakat (Abmas) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) beri edukasi terkait cara untuk mencegah bahaya petir ketika melanda.

Ketua tim Abmas ITS, Dimas Anton Asfani ST MT PhD menyatakan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh tingginya intensitas petir di Desa Ngendut, Ponorogo berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). “Fakta tersebut diperkuat juga oleh tingginya tingkat kecelakaan di Ponorogo yang bersinggungan dengan petir,” terangnya.

Pada sosialisasi kali ini, dosen Departemen Teknik Elektro tersebut memaparkan, masyarakat yang tersambar petir akan mengakibatkan berbagai gejala yang berbahaya. Gejala ringan meliputi sakit kepala, nyeri otot, cedera saraf, dan gejala lainnya. Selain itu, terdapat juga gejala berat yang memiliki efek jangka panjang, seperti susah tidur, sakit kronis, kesulitan fokus, hingga sakit kepala yang tidak dapat disembuhkan oleh obat di apotek. 

Sambutan yang diberikan oleh Ketua tim Abmas Dimas Anton Asfani ST MT PhD kepada para masyarakat Desa Ngendut, Ponorogo

Supaya terhindar dari segala bahaya akibat sambaran petir, tim Abmas ITS menegaskan pentingnya alat penangkal petir internal dan eksternal yang dipasang di setiap gedung di Desa Ngendut. Misalnya saja penangkal petir konvensional berupa penangkal petir tombak dan penangkal petir elektrostatis dapat digunakan untuk wilayah yang luas. “Selain mitigasi di gedung, manusia juga harus memitigasi diri sendiri seperti menghindari diri dari aliran air,” tutur Anto.

Adapun apabila terjadi sambaran petir pada seseorang, beberapa pertolongan pertama harus dilakukan. Seperti menghubungi rumah sakit sesegera mungkin, memastikan lokasi telah aman, melindungi tubuh dengan bahan isolator, memindahkan tubuh korban ke tempat aman, hingga memberikan resusitasi jantung paru (RJP).

Kegiatan abmas yang diikuti oleh 17 asisten Laboratorium Tegangan Tinggi tersebut menuai respons yang positif dari warga Desa Ngendut. Respons positif tersebut diuraikan dengan sigapnya masyarakat dalam menjaga dan mengamankan alat-alat yang berpotensi berbahaya ketika petir menyambar. Anton berharap sosialisasi ini dapat menanamkan kebiasaan baru dalam menjaga diri ketika hujan. “Kami berharap ilmunya dapat disebarkan secara organik ke banyak orang lain,” tutupnya. (*)

 

Reporter: Bima Surya Samudra
Redaktur: Irwan Fitranto

×