
Magetan, ITS News – Agrowisata Kampung Susu Lawu (KSL) merupakan alam anyar yang mengintegrasikan peternakan sapi perah, pendakian Gunung Lawu, dan kawasan Dusun Singolangu, Magetan. Melihat potensi pengembangannya, Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dongkrak produktivitas Kampung Susu Lawu lewat pelatihan.
Digawangi Dr Ir Eko Budi Santoso Lic rer reg, KKN ITS hadir memberdayakan masyarakat Kampung Susu Lawu (KSL) lewat pelatihan pemandu wisata terpadu, Rabu (8/9). ITS mengundang tiga pakar pariwisata, di antaranya ialah Kepala Bidang Pengelolaan Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Magetan (Eka Radityo), Ketua Forum Komunikasi Kelompok Sadar Wisata Magetan (Widia Astuti), dan pegiat wisata Madiun (Mitra Abdul Azis SPar).

Mitra Abdul Azis mengisi materi pada hari pertama pelatihan dengan topik pengantar pariwisata dan objek daya tarik wisata. Di sesi ini, peserta dijelaskan dasar-dasar dari pariwisata dan aspek yang harus dipenuhi agar kegiatan pariwisata berjalan dengan lancar. Salah satu yang menjadi bahasan utama adalah penerapan tujuh aspek sapta pesona yakni aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan yang terakhir adalah memberikan kenangan. “Jika nilai-nilai di atas terpenuhi maka objek wisata dapat semakin menarik minat pelancong untuk mengunjungi KSL,” ungkap Abdul pada paparannya.
Sebagai lanjutan dari materi hari pertama, Eka Radityo menyampaikan materi mengenai peran dan fungsi Pokdarwis untuk mendukung pengelolaan kegiatan pariwisata. Eka menegaskan dalam mewujudkan desa wisata bukan sesuatu hal yang bersifat instan. Diperlukan waktu dan proses yang panjang agar desa wisata dapat berhasil. Belum lagi kemungkinan konflik yang sangat rawan terjadi sehingga kehadiran Pokdarwis sangat penting sebagai komponen pendorong terwujudnya aspek sapta pesona untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi tumbuh berkembangnya kepariwisataan.
Widia Astuti mengisi sesi materi terakhir mengenai pembentukan dan pengelolaan Pokdarwis. Widia merincikan peran-peran yang perlu ada pada sebuah Pokdarwis mulai dari Pembina, penasehat, ketua dan wakilnya, sekretaris, bendahara, hingga masing-masing seksi yang memiliki spesialisasi yang berbeda. “Dalam pengelolaannya, jika seluruh peran berjalan optimal maka diharapkan dapat terwujud pariwisata yang berkualitas dan berdaya saing berbasis masyarakat,” jelasnya.

Selain pelatihan dari pemateri, kegiatan KKN Abmas ini juga mengenalkan teknik pemandu wisata untuk memberikan kemudahan informasi dan kenyamanan dalam berwisata. Selain itu, dilakukan juga diskusi dua arah hingga kunjungan pada kawasan Agrowisata KSL untuk memantau langsung kondisi terkininya. Seluruh rangkaian ini mendapat respon yang positif hingga muncul harapan untuk adanya lanjutan dari kegiatan KKN ini di masa mendatang.

Ketua Tim KKN, Eko Budi Santoso berharap bahwa pelatihan ini dapat menjadikan masyarakat setempat lebih siap menyambut kehadiran wisatawan dan mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisata ke Agrowisata KSL. “Kami berharap di tahun depan tim KKN ITS bisa kembali untuk melanjutkan program ini khususnya pada pembuatan masterplan untuk pengembangan potensi daya tarik wisatanya,” pungkas Eko. (*)
Reporter: Gita Rama Mahardhika
Redaktur: Muhammad Faris Mahardika