Masihkah Pohon Dianggap Penyokong Kehidupan?

Published on
PICTURED: 11/11/09 Intact peatland rainforest reflected in the afternoon sunlight on 'LAKE BESAR', to the home of Pak Dani Jambang our host and guide up the Serkap river to his fishing ' cottage'. SHOOT DESCRIPTION: Journey to Pelangi: Journey up the Serkap river through some of Riau's most beautiful and intact peatland forest. This site is home to locl fisherman, Pak Dani, who has lived in this area all his life and depended on fising. Now water PH is changing and his catch has dropped massively due to draining peatlands. This area is also under threat and currently April are trying to get concessions for this area too. Pak Dani's ouse is called Pelangi (Rainbow). The last 12 years deforestation around his home village Teluk Meranti in Riau province has made life difficult. He invited us to his life of concern for the future. Since 1997, the family's fish catch has dropped by almost 70 percent. "Before the big companies came here and began to devastate the rainforest we caught about 100 kilograms per month. Now it is between 30 and 40 kilograms”, he says. Pak Dani Jambang is 56 years and his family make their living as fishermen. Throughout his life, he returned to the family´s little cottage by the lake Tasik Besar which his ancestors had for generations to survive. This area has not yet been reached with by logging companies but is under threat as they try to gain permits for this area. On the wall of his house in yellow lettering the inscription "Pelangi", can be seen. "It means rainbow in Indonesian" says Pak Dani. "As young man I worked in Malaysia for seven years on various palm oil and rubber plantations. I passed a very nice hotel on my trip there called Pelangi. I thought it fitted on our hut". Greenpeace has set up a ‘Climate Defenders’ Camp’, in the heart of the Indonesian rainforest and intends to continue constructing dams across the Kampar Peninsula, which stores some 2 billion tonnes of carbon (4), in coming weeks as Decembe
By

 

Potret hutan gambut lindung di Sungai Besar, Riau, Indonesia. (sumber: greenpeace.org)

Kampus ITS, Opini – Setiap tanggal 10 Januari, dunia memperingati hari sejuta pohon. Sebuah momentum yang menjadi pengingat betapa pentingnya kelestarian pohon. Rentetan berita mengungkapkan hutan kerap dibabat habis oleh oknum tertentu. Mereka seolah abai dengan takdir yang menunjuk pohon sebagai roda penyokong kehidupan alam ini.

Indonesia tersohor di seluruh dunia dengan berkah hutan-hutan tropis terluas kepunyaannya. Hutan menjadi pusat produksi komponen penting kehidupan seperti, penyedia oksigen untuk bernapas, penyerap air hujan sebagai cadangan air, pemanggul keseimbangan lingkungan, bahkan pemasok bahan baku kegiatan ekonomi. Banyak gunanya, tak banyak yang sadar perannya.

Katakanlah, manusia-manusia ini terlena. Di benaknya, pohon-pohon itu tak akan ada habisnya.  Merasa tak diawasi empunya, akhirnya mereka melakukan segala cara demi keuntungan. Kian merebaknya penebangan liar, kebakaran hutan, serta alih fungsi lahan menjadi buktinya. Dilansir dari Tirto, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memantau bahwa api telah membakar lebih dari 120 ribu hektar hutan hingga akhir September 2020 lalu.  

Menurut Nina Yuliati dalam buku Pengenalan Bencana Kebakaran dan Kabut Asap Lintas Batas (2018), 90 persen kebakaran hutan dan lahan disebabkan oleh manusia, baik karena kecerobohan maupun kesengajaan. Tak heran, Nina menyatakan, metode tebas dan bakar ini memang biasa dilakukan di negara berkembang seperti Indonesia sebagai metode paling efektif untuk kegiatan alih fungsi dan pembukaan lahan.

Belum lagi soal rilis data yang menyatakan jumlah lahan kritis di Indonesia mencapai 14 juta hektar. Angka ini cukup mencengangkan sebab hampir mendekati luasnya pulau Jawa sekitar 12,9 juta hektar. Diwartakan oleh Antaranews, KLHK mengungkapkan bahwa tingginya lahan kritis ini disebabkan oleh berkurangnya lahan basah, perluasan lahan industri, serta dinamika penggunaan lahan yang mengubah fungsi lahan prima untuk persawahan menjadi pemukiman penduduk. 

Kiranya, aktivitas komersialisasi hutan ini masih menjadi dambaan orang. Terlebih dalam masa pandemi Covid-19 ini dimana negara mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi. Forest Watch Indonesia (FWI) pun mengkhawatirkan adanya potensi sektor kehutanan menjadi salah satu sektor yang akan ditingkatkan pendapatannya untuk mencukupi kebutuhan ekonomi. Kabar ini mendorong masifnya investasi lahan dengan cara penebangan dan konversi hutan atas nama pertumbuhan ekonomi. 

Berbagai kisah yang memuat ancaman terhadap kerusakan hutan itu semestinya menjadi sirine bagi kita untuk lebih memperhatikan sang paru-paru dunia. Kita bisa memulai dengan langkah-langkah kecil untuk mengembalikan ekosistem lingkungan seperti sedia kala. Ekosistem yang asri dan sehat pastinya dapat memberikan perisai bagi seluruh makhluk hidup yang ada di dalamnya.

Ketertarikan masyarakat terhadap budidaya tanaman selama masa karantina pandemi Covid-19 setidaknya menjadi angin segar untuk kita semua. Artinya, masyarakat masih punya kesadaran terhadap kehidupan pohon-pohon ini. Meski demikian, tergerak untuk menanam saja tak cukup. Pohon-pohon tersebut perlu terus dirawat sampai tumbuh kokoh dan rindang, sehingga dapat meneruskan peran awalnya yaitu, menjadi penyokong kehidupan makhluk hidup di muka bumi ini. 

Penanaman pohon Tabebuya di sekeliling Taman Alumni ITS pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Nasional 2020. (sumber: its.ac.id/news)Bersama kita bergegas mengembalikan kehidupan pohon, demi memberikan ruang hidup yang layak untuk kita semua!

Ditulis oleh:

Astri Nawwar Kusumaningtyas

Mahasiswa Departemen Teknik Kimia ITS

Angkatan 2019

Reporter ITS Online

×