Demikian disampaikan Rektor ITS, Prof Dr Ir Mohammad Nuh DEA, Senin (11/12) siang, terkait dengan hasil kunjungannya ke Jepang bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, beberapa waktu lalu. “Ada tujuh rektor perguruan tinggi yang ikut dalam kunjungan kenegaraan Presiden beberapa waktu lalu, dan ITS memanfaatkan kunjungan itu untuk merelisasikan kerja sama dengan Keio University dan NICT untuk bidang manajemen bencana,” katanya.
Dipilihnya Jepang, kata Nuh menjelaskan, karena selama ini Jepang merupakan negara yang paling berpengalaman menghadapi bencana. Bukan hanya bencana gempa bumi, tapi juga bencana industri dan bencana angin taufan. “Ini artinya, mereka memang tidak bisa menghindar dari bencana, tapi bagaimana menghadapi bencana itu dengan manajemen yang baik, sehingga tidak menimbulkan banyak korban jiwa,” katanya.
Menurut Nuh, rencana yang akan dikembangkan dalam bidang disaster management berkait dengan pemanfaatan information and communication technology (ICT), dimana masing-masing pusat studi bencana yang ada di Jepang saling berhubungan dengan badan-badan serupa yang ada di Indonesia. “Dalam hubungan kerja sama ini, maka nanti semua hal yang berhubungan dengan bencana di Indonesia bisa diinformasikan dan diakses oleh Jepang dan demikian sebaliknya. Tentu bukan saja tentang kemudahan akses, tapi juga data dan informasi yang ada bisa dijadikan sebagai sebuah bahan kajian untuk menyelesaikan bencana yang muncul,” katanya.
Jepang, kata Nuh menambahkan, selain punya pengalaman panjang tentang bencana di negaranya juga punya cukup banyak ahli serta infrastruktur yang memadai untuk mempercepat arus informasi itu. Karena memang jaringan komunikasi di sana sudah mencapai orde giga, bukan lagi kilo atau mega. “Ini yang menjadi bahan pertimbangan untuk mewujudkan kerja sama di bidang disaster management dengan Jepang. Selain itu, juga telah dirintis dengan Finlandia di Eropa,” katanya.
Pembangunan Bangsa
Menyinggung tentang keikutsertaan tujuh rektor dalam kunjungan itu, Nuh mengungkapkan, merupakan bagian dari keinginan Presiden untuk menempatkan perguruan tinggi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari konteks pembangunan bangsa. “Kalau selama ini perguruan tinggi sudah melakukan perjanjian U to U atau Universitas dengan Universitas, maka keikutsertaan dalam kunjungan itu juga bagian dari upaya pemerintah dalam mendorong agar perjanjian yang telah dilakukan dapat terus dikembangkan dan dilanjutkan dengan perguruan tinggi lain,” katanya.
Tentu, kata Nuh menjelaskan, konteks keikutsertaan ketujuh rektor itu jangan diartikan sempit hanya pada tujuh perguruan tinggi itu, tapi maknanya juga bagi perguruan tinggi lain. Sehingga ketujuh perguruan tinggi itu hanya merupakan bagian yang secara kebetulan saat itu diajak dalam kunjungan. “Bagi ITS, sebagai perguruan tinggi yang diikutsertakan dalam kunjungan kenegaraan itu, punya kewajiban membantu perguruan tinggi lain yang berminat untuk menjalin hubungan dengan perguruan tinggi di luar negeri, karena memang keinginan itulah yang diharapkan oleh Presiden,” katanya. (Humas/ftr)