
Kampus ITS, ITS News — Kali ini prestasi membanggakan kembali diraih Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Menghadirkan inovasi pada metode perakitan jembatan, tiga mahasiswanya ITS berhasil keluar sebagai juara kedua Kompetisi Rancang Bangun 2020 kategori National Bridge Competition, Kamis (27/02).
Adalah Zamroni Urfan, Wahyu Aria Mileniago, dan Laili Dian Saputri, tiga mahasiswa Teknik Sipil ITS yang berhasil menginovasikan metode perakitan jembatan dengan cara mudah dan waktu yang singkat. Zamroni Urfan, salah satu anggota tim yang menyebut diri mereka The Doctor ini mengungkapkan, proses perancangan metode mereka memakan waktu kurang lebih selama satu bulan penuh.
“Persiapan yang kami lakukan mulai dari riset untuk menentukan struktur jembatan, melakukan pemodelan dan analisis struktur jembatan hingga trial perakitan jembatannya sendiri,” ungkap mahasiswa yang akrab disapa Zam ini.

Zam juga menjelaskan bahwa terdapat dua inovasi yang mereka coba terapkan. Inovasi pertama adalah dengan menggunakan sambungan tipe bibir miring pada batang tekan. Dengan inovasi ini diharapkan sambungan akan saling mengikat saat diberi beban. “Sambungan ini memiliki luas penampang lebih besar sehingga memperbesar area rekatan lem pada sambungan,” jelasnya.
Kemudian, inovasi kedua yaitu dengan meletakkan batang tarik pada sisi terluar rangka jembatan. Tujuannya adalah agar tak perlu lagi menggunakan plat sambung pada setiap sambungan jembatan yang notabene merupakan bagian penting untuk menjaga agar jembatan tetap aman untuk dilewati.
“Hal ini memudahkan metode perakitan dan meminimalisir waktu perakitan karena tidak memerlukan waktu untuk fabrikasi atau perakitan plat sambung,” urai Zam.
Lebih lanjut, Zam mengklaim, berkat inovasi mereka ini metode perakitan jembatan menjadi lebih mudah dan durasi perakitan menjadi lebih singkat. Bahkan, mahasiswa tahun kedua ini juga mengklaim bahwa ia dan tim mampu menyelesaikan prototype jembatan selama satu jam enam menit dari total tiga jam waktu yang disediakan. Tak hanya itu, jembatan yang mereka rancang pun memiliki berat paling ringan di antara semua peserta.
“Berat jembatan kami adalah 174.6 gram yang mana ringan karena kami tidak menggunakan plat sambung,” tambahnya.
Kendati demikian, selama proses perancangan metode ini, Zam mengaku bahwa ia dan tim menghadapi banyak hambatan. Mereka tidak tahu kualitas atau mutu kayu balsa yang disediakan panitia lomba, sehingga sangat mungkin ada perbedaan kualitas kayu yang mereka gunakan saat percobaan di kampus dan kayu dari panitia. Hal tersebut tentu dapat mempengaruhi perhitungan analisis struktur jembatan nantinya.
“Kami juga kesulitan untuk mengukur kekuatan jembatan pada saat percobaan di kampus dan perakitan final karena perbedaan material kayu tersebut,” ujarnya.
Pada akhir wawancara dengan kru ITS Online, Zam dan tim mengaku bahwa mereka tidak menyangka jika kerja keras mereka mampu membuahkan hasil yang baik dan keluar sebagai juara kedua. Selama mengikuti rangkaian lomba, mereka mengakui telah belajar banyak hal. “Kami yakin, di luar sana masih banyak orang yang kompeten dan punya kemampuan yang lebih baik, sehingga kami harus terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan khususnya dalam bidang rancang bangun jembatan,” pungkas Zam. (meg/rur)