Kristiono, Ketua IKA ITS, Jumat (10/11) petang mengatakan pembangunan SPBU ini merupakan pilot project yang mau tidak mau harus dilakukan jika ingin mengembangkan biodiesel ini secara massal. ”Untuk pembiayaannya, sudah ada investor yang bersedia membiayainya. Sedikitnya dibutuhkan investasi sebesar Rp 8,5 miliar di luar budidaya tanaman jarak. Nantinya, proses pembuatan biji jarak menjadi biodiesel akan dilakukan di kompleks tersebut. Masyarakat pun bisa mencoba membelinya di dalam Kampus ITS,” katanya.
Mengenai harga, katanya menambahkan, karena belum diproduksi secara massal, diperkirakan harganya asekitar Rp 3.000 hingga Rp3.500. Jika diproduksi secara massal, tak menutup kemungkinan harganya bisa lebih murah lagi.
Sementara Dr Ir Gatot Ibnusantosa, peneliti senior pada Pusat Studi Kebijakan Industri dan Teknologi (Tenov) IKA ITS, menilai biodiesel lebih prospektif ketimbang energi alternatif lainnya karena pohon jarak sebagai bahan bakunya merupakan komoditas yang terbarukan (renewable). Permasalahannya, ujar Gatot, pemerintah harus membuat tata kelola budidaya pohon jarak sehingga pada sisi lainnya, industri biodiesel bisa berjalan.
Tentang hal ini, ia mengaku optimis. Sebab pada awal tahun ini, Presiden RI sudah menunjukkan komitmennya untuk mengembangkan energi nasional pengganti bahan bakar fosil yang diimplementasikan lewat Inpres No. 1/2006 dan Keppres No. 5/2006 tentang keharusan bagi Pemda di seluruh Indonesia dalam menyediakan tanah dan anggaran untuk budidaya pohon jarak.
Ditanya tentang kemungkinan adanya permintaan konsumen yang luar biasa untuk membeli bahan bakar ini, Gatot menjelaskan, tidak akan terjadi. Yang kemungkinan terjadi adalah investasi besar-besaran untuk membangun indsutri atau pabrik ini. ”Buat kami kalau ini yang terjadi merupakan suatu tantangan yang harus siap untuk dijawab. Kami telah mampu membuat model alat dan proses itu, kini tinggal bagaimana bisa menjawab kemungkinan banyaknya investor yang akan berinvestasi di bidang ini,” katanya.
Disarankan Gatot, untuk bisa lebih baik proses produksi, maka akan lebih baik jika bahan baku jarak itu juga dimiliki oleh investor, sehingga ketergantungan dan kualitas bahan baku biji jarak bisa terjaga. ”Kami melihat jika ini berjalan, akan banyak ekonomi di masyarakart tumbuh karena ikut dilibatkan dalam penanaman biji jarak,” katanya.
Gatot yang mantan Dirjen Kimia, Agroindustri, dan Hasil Hutan Depperindag ini mengklaim formula biodiesel yang sudah dipatenkan ini sebagai revolusi energi jika pemerintah bisa mengelolanya dengan baik. (Humas/ftr)