
Kampus ITS, ITS News – Terus berupaya membangun negeri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berhasil melahirkan beragam inovasi. Mulai dari sepeda terapi pasca stroke, bata tanah berbahan lumpur lapindo, hingga aplikasi pendeteksi ketersediaan lahan parkir berhasil ditelurkan kampus perjuangan. Berikut kami rangkum inovasi terbaik ITS dalam Kaleidoskop ITS 2019.
1. Sepeda Terapi Pasca Stroke Luncuran ITS

Sejak lama, ITS telah berupaya mengawinkan riset teknologi dengan dunia medis. Kali ini, Laboratorium Perancangan dan Pengembangan Produk (P3) Departemen Teknik Mesin ITS berhasil memperkenalkan inovasi berupa Sepeda Roda Tiga ITS (SeraITS) sebagai alat bantu terapi pasien pasca stroke. SeraITS hadir untuk memberikan alternative pemanfaatan alat fisioterapi yang sekaligus berfungsi sebagai alat mobilitas. Tak tanggung-tanggung, alat yang ergonomis ini pernah diuji pada lima pasien stroke setengah (sebagian tubuh) yang sedang mengalami fase perawatan pasca stroke di Rumah Sakit Umum (RSU) Haji Surabaya. Melalui hasil uji sebanyak tiga kali seminggu selama sebulan ini, banyak pasien yang mengalami kemajuan pada proses pengobatannya.
2. Rancangan Kursi Roda Otomatis untuk Disabilitas

Guna mempermudah pergerakan penyandang disabilitas dan penderita kelumpuhan, mahasiswa dari Departemen Teknik Biomedik ITS, I Wayan Nudra Bajantika Pradivta sukses merancang kursi roda otomatis yang bisa dikendalikan dengan perintah gerakan otot tangan. Dengan sensor elektromiograf, kursi roda inovatif tersebut menggunakan gerakan pada pergelangan tangan sebagai pengendali arah dan penggerak kursi roda. Cara kerjanya dengan menempelkan elektroda sebagai kontrol otot pada masing-masing lengan tangan. Jika ingin belok ke kanan, telapak tangan kanan digerakkan dan sebaliknya untuk belok ke kiri. Jika untuk bergerak maju, harus menggerakkan kedua telapak tangan bersamaan. Produk inovatif ini merupakan hasil kerjasama Pusat Disabilitas Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan digunakan sebagai acuan mahasiswa Unesa dalam member saran inovatif untuk pembuatan purwarupa selanjutnya.
3. Bantu Penyandang Disabilitas Tangan dengan DEFBoard

Kali ini, untuk membantu penyandang disabilitas tangan, mahasiswa ITS menciptakan sebuah keyboard atau papan ketik kaki yang diberi nama DEFBoard. Keyboard unik ini tidak dibuat secara sembarangan atau asal-asalan. Dalam proses desain dan pembuatannya terdapat riset mendalam terlebih dahulu dengan mengaplikasikan basis ergonomi dan anthropometri, sehingga sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Menurut Sangki Purabaya, kemiringan keyboard, lengkungan, hingga penataan tombolnya juga telah dipertimbangkan secara khusus demi kenyamanan penggunanya. Dengan kompleksitas desain dan proses pembuatannya, alat yang beberapa kali melewti uji coba ini berhasil meraih medali emas pada Taiwan Innotech Expo 2019.
4. Bata Tanah Padat Ramah Lingkungan Buatan Guru Besar ITS

Melihat kualitas bata merah yang semakin menurun di Indonesia, menimbulkan keprihatinan tersendiri bagi salah satu Guru Besar ITS, Dr Ir Vincentius Totok Noerwasito MT. Didasari hal tersebut, ia berupaya menciptakan bata tanah padat yang lebih berkualitas. Terlebih, bata tersebut dapat dibuat dari tanah jenis apapun dan tidak tergantung pada iklim di tempat-tempat tertentu. Hebatnya, bata buatannya merupakan kombinasi dari lumpur sidoarjo, tanah, bambu, limbah kertas, dan kalsium silikat. Selain itu, pembuatannya juga tidak melalui proses pembakaran, sehingga tidak menimbulkan polusi udara yang berdampak terhadap lingkungan.
5. Beton Ramah Lingkungan dari Limbah B3

Dosen Departemen Teknik Sipil ITS, Dr Eng Januarti Jaya Ekaputri ST MT berhasil memanfaatkan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dari industri menjadi beton yang ramah lingkungan. Limbah abu batu-bara, baik itu fly ash atau bottom ash dimasukkan ke dalam semen untuk membuat beton yang ramah lingkungan. Kemudian, untuk meningkatkan daya tekan beton dan produksinya yang prima, Yani turut menambahkan bakteri yang dapat hidup dan berkembang di dalamnya. Bakteri ini akan bereaksi dengan kapur terlarut dalam beton menjadi CaCO3 (calcite) yang mengisi pori-pori beton. Alhasil, beton menjadi padat dan lebih kuat. Berkat inovasinya ini, Yani berhasil meraih juara pertama pada Mining and Minerals Industry Institute (MMI) Research Award Competition 2019.
6. Dosen ITS Kembangkan Biogas dari Limbah Organik

Menipisnya cadangan energy bumi menuntut Dosen Departemen Teknik Kimia Industri, Prof Dr Ir Soeprijanto MSc, berhasil membuat sebuah penelitian untuk membuat biogas dan bioetanol dari limbah-limbah yang dianggap kebanyakan orang sudah tak berarti dan memiliki nilai ekonomi yang kecil. Setelah melalui proses grinding, semua limbah buah dan sayuran kemudian diumpankan ke dalam digester anaerobic. Sehingga dengan melalui proses fermentasi akan dihasilkan produk biogas. Selain biogas, ia juga melakukan penelitian pembuatan bioetanol yang berasal dari sorgum, batang dan tongkol jagung.
7. Hambat Korosi pada Bangunan Lepas Pantai dengan Puntung Rokok

Jika di banyak tempat puntung rokok merupakan sampah yang tak bermanfaat, lain halnya bagi tiga mahasiswa ITS yang berhasil menemukan manfaat menarik dari sampah puntung rokok tersebut. Berdasar hasil penelitiannya, kandungan dalam puntung rokok ternyata dapat menghambat terjadinya korosi pada bangunan lepas pantai. Disebutkan bahwa nikotin yang terkandung di dalam puntung rokok ternyata dapat digunakan sebagai inhibitor korosi. Dengan pemberian nikotin dari punting rokok, proses korosi dapat dihambat dua persen lebih optimum dengan laju korosi sebesar 28,6 mpy (miles per year).
8. Ubah Polusi Udara jadi Gas Ramah Lingkungan

Meningkatnya jumlah pengendara bermotor turut mengakibatkan peningkatan kadar polusi udara. Menyadari hal tersebut, tiga orang mahasiswa Departemen Kimia ITS berhasil mengubah polusi udara tersebut menjadi gas yang aman dan layak buang. Ketiganya berinovasi dengan membuat katalitik konverter berupa reaktor yang berisikan lempengan kawat tembaga dan senyawa kimia padatan berupa katalis MnO2/Zeolit-Y Hierarki. Diakui mereka, katalik ini dapat mereduksi gas karbon monoksida, nitrogen oksida, dan hidrokarbon menjadi gas karbon dioksida, nitrogen, uap air, dan ion sulfat yang aman dan bermanfaat bagi lingkungan. Contohnya, pemanfaatan gas karbon dioksida sebagai bahan fotosintesis tumbuhan, nitrogen untuk daya dukung kesuburan tanah, uap air dan ion sulfat sebagai produk yang aman bagi lingkungan.
9. Olah Sampah Plastik jadi Bahan Baku 3D Printing

Melihat permasalahan sampah plastik yang masih marak terjadi di masyarakat, Tim Antasena ITS berhasil menginovasikan alat untuk mengolah sampah plastik menjadi bahan baku 3D Printing (Mesin Cetak Tiga Dimensi). Alat yang digerakkan dengan energi listrik ini bekerja dengan cara memadatkan dan menekan sampah plastik yang akan diolah. Kemudian, padatan tersebut dipanaskan sampai dengan temperatur sekitar 200-300 derajat celcius. Selanjutnya, mesin ini akan menghasilkan padatan yang bisa digunakan untuk bahan baku 3D Printing. Selain itu, alat yang bernama Single Screw Extruder Portable juga dirancang agar mudah dibawa kemana-mana, sehingga para pengguna bisa mengolah sampah secara praktis dan bermanfaat.
10. Sistem Pendeteksi Kesuburan Tanah karya Mahasiswa ITS

Salah satu mahasiswa Departemen Sistem Informasi ITS, Hipzul Achmad Jabbar berhasil merancang sistem pendeteksi kesuburan tanah yang dapat memberikan informasi kepada pengguna mengenai kondisi tanahnya saat ini. Dilengkapi sensor kelembaban, pH, Electrical Conductivity (EC), dan suhu, sistem tersebut bisa mengontrol tanah untuk menentukan kecocokan tanaman apa yang dapat ditanam atau kekurangan ion apa yang kemungkinan perlu ditambahkan pupuk. Keempat sensor yang telah ditancapkan ke tanah akan mengirimkan data ke microcontroller. Kemudian, data tersebut diteruskan dan ditampilkan pada aplikasi yang telah dibuat secara wireless
11. ES-PORT, Inovasi Pendingin Ikan Bertenaga Surya untuk Nelayan

Besarnya potensi Indonesia dengan garis pesisir pantai dan jumlah nelayannya membawa mahasiswa ITS menggagas sebuah alat pendingin penyimpanan ikan tenaga surya untuk para nelayan. Alat yang diberi nama Eco Storage Portable (ES-PORT) tersebut menggunakan sistem termoelektrik yang dilengkapi dengan panel surya sebagai pengganti sistem konvensional yang menggunakan es batu. Selain itu, pemanfaatan limbah high density polyethylene (HDPE) yang terkenal sulit diolah sebagai body ES-PORT juga menjadi nilai tambah keramahan terhadap lingkungan. Dengan produk inovatif ini, ITS berhasil menyabet juara pertama dalam Design Competition for Industrial System and Environment 2019.
12. KUMA, Aplikasi Terobosan untuk UMKM

Mahasiswa Departemen Informatika ITS berhasil mengembangkan sebuah aplikasi untuk membantu pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Aplikasi yang bernama KUMA ini merupakan sebuah wadah yang bisa menghubungkan UMKM dengan konsumen. Bernamakan KUMA yang merupakan akronim dari Kumpulan Makanan, aplikasi ini didesain untuk memudahkan UMKM dalam pencarian informasi guna mengisi lapak dalam suatu acara, dan memudahkan konsumen mencari informasi pemesanan makanan untuk skala kecil maupun besar. Ke depan, penambahan fitur obrolan dan regulasi pendaftaran menjadi merchant akan terus diperbarui untuk menjamin keamanan penggunanya. Berkat inovasi ini, ITS berhasil membaga trofi juara pertama Mobile Apps Development Competition (MADC) 2019.
13. Inovasi Pendeteksi Ketersediaan Lahan Parkir dengan Smart Parking

Lahan parkir yang terbatas dan sulit dijangkau pandangan sering kali menjadi permasalahan masyarakat. Hal inilah yang menginspirasi seorang mahasiswa ITS, Labib Izzatur Rahman untuk menciptakan sebuah sistem parkir otomatis yang dapat menginformasikan ketersediaan lahan parkir tanpa perlu berkeliling terlebih dahulu bernama Smart Parking. Sistem ini berupa sebuah perangkat terintegrasi yang berbasis Arduino untuk mengolah inputasi data. Berdasarkan fungsi dan lokasi penempatannya, sistem Smart Parking ini terdiri dari dua perangkat yang masing-masing terletak di gerbang masuk dan atap tiap-tiap lahan parkir. Perangkat di gerbang berfungsi untuk mendeteksi kendaraan yang masuk, sedangkan yang terletak di atap lahan parkir fungsinya untuk menginput data lahan parkir yang masih kosong atau sudah terisi.
14. Rancang Mesin Pengupas Biji Sorgum Tepat Guna

Belum adanya mesin pengupas kulit biji sorgum yang tepat guna mengundang sekelompok mahasiswa ITS berinovasi membuat mesin untuk membantu meningkatkan produktivitas petani tanaman sorgum. Mesin tersebut dirancang dengan kecepatan optimal dan dilengkapi dengan gerinda pengupas yang kasar. Jika dikombinasikan dengan silinder saringan, akan menimbulkan efek menggerinda pada biji sorgum yang menyebabkan terkelupasnya kulit biji sorgum dan menghindarkan risiko biji sorgum yang terpecah. Hailnya, kualitas dari biji sorgum yang dikenal sebagai sumber makanan alternatif pengganti tanaman padi bisa meningkat.
Demikian serangkaian inovasi yang berhasil diwujudkan ITS pada tahun 2019. Semoga, capaian tersebut dapat terus meningkat pada tahun 2020. Sebagai kampus inovatif, semua inovasi ini menjadi bentuk komitmen ITS untuk turut serta membangun dan memajukan Indonesia.
Salam
Redaksi ITS Online