
Kampus ITS, ITS News — Tak hanya mahasiswa berprestasi saja yang berhasil membawa nama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Kali ini, dosen ITS berkesempatan untuk berkolaborasi dengan peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) dalam agenda Workshop Riset Matching yang diadakan oleh MIT- Indonesia Research Alliance (MIRA).
Bambang Pramujati ST MSc Eng PhD Wakil Rektor IV ITS menjelaskan, MIRA adalah program yang diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Melalui tim World Class University, dijalin kerjasama riset dan publikasi antara MIT dan beberapa perguruan tinggi di Indonesia. “Sebagai peserta, kita harus mengikuti beberapa step dan seleksi proposal MIRA terlebih dahulu,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ITS mengikuti lokakarya bersama Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Pertanian Bogor (IPB), serta enam Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) lainnya. “Dari ITS ada sebelas peneliti utama dan beberapa anggota peneliti lainnya yang ikut dalam lokakarya,” ujar pria kelahiran Yogyakarta tersebut.
Dosen Departemen Teknik Mesin ini menjelaskan, kegiatan lokakarya sendiri bertujuan untuk mempertemukan peneliti dari Indonesia dan MIT, serta melihat bidang-bidang penelitian yang mungkin dikerjasamakan. “Ada tujuh topik yang diangkat, kebanyakan pada bidang teknologi, mulai dari sustainable transport sampai dengan sosial sains dan kemanusiaan,” jelasnya
Penanggung jawab MIRA ITS, Dr rer pol Heri Kuswanto M Si menambahkan, ITS sebenarnya dapat mengirimkan 24 tim dalam lokakarya tersebut. Namun, akibat beberapa kendala, beberapa tim yang tidak bisa ikut diberikan kesempatan di tahun 2020 untuk matching dengan profesor di MIT. “Program ini tidak membatasi dari bidang keilmuan tertentu,” jelas pria berkacamata ini.
Pada acara yang digelar selama dua hari ini, para peneliti berkesempatan mempresentasikan dan mendiskusikan bidang riset yang ingin didalami. “Bahkan, beberapa dosen memperpanjang kunjungannya agar bisa menulis proposal bersama untuk dikirimkan ke MIRA,” terangnya.
Menurut alumnus Leibniz Universität Hannover Jerman tersebut, kegiatan ini menjadi batu loncatan untuk membawa nama ITS di kancah internasional. Terlebih, MIT merupakan universitas nomor satu dunia. “Profesor dari MIT juga berkesempatan datang ke Indonesia, seperti profesor saya yang sudah siap untuk berkunjung ke ITS,” tuturnya.
Heri menambahkan, luaran yang diharapkan dari program penelitian MIRA ini berupa publikasi di kuartil satu atau Q1 untuk penelitian yang ditulis bersama profesor MIT. Harapannya, jumlah sitasi akan meningkat, sehingga turut meningkatkan peringkat ITS. “Program ini juga diharapkan menjadi pembuka pintu bagi program-program lainnya dengan MIT,” pungkasnya. (zar/rur)
