Seminar Ikan: Dari Penggunaan Satelit Hingga Jaring Apung

Published on
By

Seminar Ikan dan Manusia yang diadakan di Gedung Rektorat ITS ini dihadirkan sebagai bentuk pendidikan terhadap lingkungan bahari dengan segala aspeknya yang disebut juga akuakultur. Seminar ini sendiri diadakan berkaitan dengan diperingatinya Hari Lingkungan Hidup Sedunia, hal ini disampaikan dalam sambutan yang dibawakan oleh Pembantu Rektor III Dr Ir Achmad Jazidie M Eng.

Dalam seminar ini disampaikan konsep baru perikanan dan kelautan, yang disampaikan oleh dosen-dosen ITS. Turut hadir juga praktisi, akademisi, dan perwakilan pemerintah dari Depertemen Kelautan dan Perikanan. Sedangkan dua pembicara lainnya berkebangsaan asing, yaitu Michel Larue dan Lionel Lettesier.

Salah satu konsep yang disampaikan dalam seminar ini adalah prototip pengambangan jaring apung modern yang dapat melipatgandakan hasil tangkapan nelayan. Prototip yang didesain oleh dosen ITS ini memiliki beberapa kelebihan dan sudah diujicobakan di beberapa pantai di Jawa Barat dan Jawa Timur. Prototip ini dijelaskan secara gamblang oleh dosen dari Fakultas Teknologui Kelautan ITS, Dr Mukhtasor M.Eng, dengan makalahnya yang berjudul Perkembangan Teknologi di Bidang Perikanan dan Kelautan.

Pada sesi berikutnya, dibicarakan mengenai efektifitas penggunaan rekayasa bioteknologi dalam bidang perikanan yangdijelaskan oleh Enny Zulaikha, dosen dari Jurusan Biologi ITS. Dalam makalahnya yang berjudul Bioteknologi dan Keamanannya: Suatu wacana di Bidang Perikanan, Zulaikha memaparkan kelebihan dan kekurangan rekayasa bioteknologi.

Penggunaan teknologi rekayasa ini, menurut Zulaikha sudah berkembang pesat di negara-negara maju. “Sedangkan di Indonesia sampai saat ini pemerintah baru memasuki taraf ‘tertarik’,” ujar Zulaikha. Menurut Zulaikha, ketertinggalan Indonesia ini diakibatkan oleh beberapa aspek yaitu, kualitas SDM yang belum memadai hingga ketersediaan prasarana yang tidak terpenuhi.

Sementara itu, pembicara asing dalam seminar ini merupakan pengusaha sukses di bidang perikanan. Michel Larue misalnya, merupakan pengusaha penangkapan ikan yang menggunakan satelit. Menurut Michel satelit sangat memudahkan nelayan untuk mengetahui zona-zona persebaran ikan yang sulit sekali untuk dipetakan. Michel juga mengatakan bahwa perairan di Indonesia merupakan zona yang sangat potensial, sayangnya penangkapan ikan yang membabi buta menyebabkan beberapa zona mengalami penurunan produksi akibat terjadinya over fishing.

Pembicara asing lainnya adalah Lionel Lettesier, yang merupakan pengusaha tambak udang yang sukses. Lulusan S2 Universite des Sciences et Techniques Montpellier ini menjabat sebagai Managing Director di PT Banggai Sentral Shrimp yang merupakan perusahaan penanaman modal asing terbaik di tahun 2002.

Lionel memaparkan pengalamannya beternak udang yang dia mulai tahun 1985 di Ekuador, hingga saat ini di Sulawesi. Pengalaman suksesnya ini bukan saja didukung oleh pendidikan tingginya, melainkan juga pengalaman yang selama ini Lionel hadapi. “Universitas saya menekankan mahasiswanya untuk berwirausaha,” ujar Lionel. (ap/rif)

×