Penggunaan Aplikasi SHMS untuk Menghindari Kegagalan Struktur

Published on
By
Akristin Eko Sujepri ST sedang memaparkan materinya mengenai aplikasi SHMS

Kampus ITS, ITS News – Faktor keamanan dan kehandalan sistem pada infrastruktur adalah suatu hal yang mutlak. Hal itu berfungsi untuk memberikan kenyamanan serta keselamatan kepada para penggunanya. Struktur bangunan yang kuat juga mampu memberikan daya tahan yang lebih serta jangka umur yang lebih lama. Tentunya, hal tersebut harus didukung dengan adanya monitoring berkala agar kondisi struktur selalu dalam keadaan yang baik. Untuk mendukung aspek tersebut, PT Graha Survei Indonesia (GSI) memaparkan aplikasinya tentang Structural Health Monitoring System (SHMS).

Pemaparan materi serta diskusi yang ditujukan kepada mahasiswa Teknik Sipil dan Teknik Kelautan ini dilangsungkan di Ruang Sidang Rektorat Lantai 1, Rabu (27/2). Pemaparan disampaikan langsung oleh Direktur dari PT GSI, Akristin Eko Sujepri ST. PT GSI merupakan salah satu anak perusahaan Graha Citra Anugerah Lestari Grup, yang secara khusus bergerak di bidang asesmen dan pengujian struktur pada jembatan, dermaga dan gedung-gedung bertingkat.

Secara sederhana, aplikasi SHMS itu bekerja pada forensik bangunan. Proses ini dilakukan untuk menilai keadaan kesehatan misalnya adanya kerusakan dari struktur atau konstruksi dengan menggunakan beberapa alat instrumen pengukuran bantuan seperti sensor, jaringan data, dan sebagainya.

“Bagi mahasiswa teknik, proses penerapan deteksi kerusakan dan strategi karakterisasi disebut SHMS,” ujar pria yang menyelesaikan pendidikan sarjananya di Teknik Sipil ini. Di sini, lanjutnya, kerusakan didefinisikan sebagai perubahan pada material atau sifat-sifat geometris dari suatu sistem struktural. Hal itu termasuk perubahan kondisi batas dan konektivitas sistem, yang secara negatif dapat mempengaruhi kinerja sistem konstruksi.

Proses SHMS melibatkan tiga hal yaitu pengamatan suatu sistem dari waktu ke waktu menggunakan pengukuran sampel secara periodik dari berbagai sensor yang ditempatkan di titik – titik tertentu. Kemudian ekstraksi fitur yang peka terhadap kerusakan dari pengukuran ini, dan analisis statistik melalui layar monitor untuk menentukan kondisi kesehatan sistem terbaru. “Semua dilakukan secara terintegrasi dengan sistem yang cerdas,” jelasnya.

Ia melanjutkan, proses pemantauan sendiri dapat dilakukan baik secara langsung pada titik pengujian maupun secara online dengan cloud data center. Kemudian, ada beberapa tes yang dilakukan pada proses SHMS yaitu mengukur getaran pada sistem konstruksi, distribusi gaya pada strukur saat menerima beban, pengaruh lingkungan sekitar terhadap struktur seperti angin, gelombang, dan sebagainya.

Lebih lanjut, ia memaparkan beberapa keuntungan yang bisa didapatkan dari aplikasi SHMS melalui PT GSI. Di antaranya adalah, data bisa terus terbaharui dari seluruh sensor pada struktur dengan konsumsi enenrgi yang hemat. Seluruh sistem mampu bekerja dengan akurat dalam segala tipe cuaca maupun kondisi atmosfernya. “Hal ini juga termasuk penyaringan informasi yang cepat dan tepat untuk dianalisis saat keadaan ekstrem seperti gempa atau ledakan muatan,” tambahnya.

Selain itu, proses SHMS juga dilakukan pada struktur dalam jangka waktu yang panjang. Hal itu dilakukan mengingat faktor penuaan struktur adalah hal yang tidak bisa dihindari dan juga aspek degradasi yang dihasilkan lingkungan operasional sekitar.

Di akhir sesi, ia menyampaikan rasa terima kasihnya sekaligus antusiasmenya pada pengembangan inovasi SHMS di Indonesia. “Harapannya, proses SHMS ini dapat diaplikasikan langsung untuk memonitor terkait struktur – struktur yang ada sekaligus sebagai tindakan preventif apabila terjadi kegagalan pada struktur,” pungkasnya. (lut/owi)

×