Tularkan Semangat Guyub Melalui Wayang

Published on
By

Ada keramaian berbeda di Taman Alumni ITS, Jumat (10/11) malam. Puluhan pemain gamelan atau yang dikenal dengan nggamel beserta sindennya saling bersahutan pertanda pertunjukkan wayang kulit akan segera dimulai. Pertunjukkan seni tertua di Indonesia ini merupakan rangkaian acara Dies Natalis ITS ke-57 dan Departemen Teknik Sipil ke-60.

Seperti tahun sebelumnya, pentas wayang kulit kali ini menghadirkan sosok legendaris, Ki Manteb Soedharsono.  Mengambil cerita tentang Bima Bangkit, kisah ini menceritakan tentang bagaimana Bima Banglat membangun dan memulai suatu negeri. Dalam kisah tersebut diceritakan tentang kearifan Bima sehingga mampu membangun dan memimpin negerinya dengan sangat baik.

Menurut sekretaris acara Dies Natalis 60 tahun Departemen Teknik Sipil, Errik Rozas, cerita Bima Bangkit ini dipilih bukan tanpa alasan. Menurutnya, kisah ini mewakili cerita kiprah ITS dan Departemen Teknik Sipil selama 60 tahun terakhir. “Sama halnya dengan Bima dalam kisah tersebut, ITS dan Teknik Sipil dahulu hadir, menciptakan yang belum ada, lalu berkembang untuk memberikan nilai bagi bangsa Indonesia,” ujarnya.

Lebih lanjut, Errik mengatakan amanat yang ingin disampaikan melalui kisah tersebut adalah semangat kebersamaan yang dicontohkan oleh Bima. Semangat itu pula yang membawa ITS dan Departemen Teknik Sipil terus berkontribusi bagi negeri. “Semangat guyub itu yang ingin kita tularkan kepada semua yang datang, bahwa saat kita bersama-sama kita bisa memberi lebih,” tuturnya.

Sebagai kebudayaan tertua di Indonesia, wayang dianggap sebagai media yang tepat untuk menyampaikan amanat tersebut kepada warga sekitar ITS. Selain itu, nilai-nilai kearifan yang terkandung dalam pertunjukan wayang membuat gelaran ini rutin diadakan setiap tahun.

Gelaran wayang kulit inipun turut dihadiri oleh Rektor ITS, Prof Ir Joni Hermana MSecEs PhD serta Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti. Sebelum pertunjukan wayang dimulai, Menteri Susi mendapatkan kehormatan untuk menyerahkan wayang Bimo kepada Ki Manteb tanda gelaran dimulai. (mik/dza)

×