Lubna Algadrie dan Buku Kisah Perjalanan Single Parent-nya

Published on
By

Mendung tipis meneduhkan rumah berlantai merah bata bercat jingga sore itu. Di halaman yang cukup luas, tanaman anggrek bulan menggelantung di pohon mangga. Rumput-rumput tipis menjadi permadani di rumah bernomor F8 Perumahan Dinas ITS, Sukolilo, tersebut.

Memasuki ruang tamu, pernak-pernik dari berbagai negara serta pigura foto keluarga menyita pandangan mata. Begitu pula di ruang tengah dan perpustakaan keluarga, bingkai-bingkai foto menghiasi sudut-sudutnya. Bak galeri foto.

Di rumah itulah Lubna Algadrie tinggal bersama putra bungsungnya, Nouval Maudrid Haluruk. Dua kakak Nouval, Jusuf Maury Haluruk dan Sofia Maury Haluruk, telah berkeluarga dan kini tinggal terpisah. Jusuf sekarang bermukim di Belanda dan Sofia di NTB.

Ya, sejak 1985, dosen bahasa Inggris ITS tersebut menjalani hidup tanpa pendamping. Sefa Haluruk, belahan hati yang menyunting dirinya pada 12 November 1977, telah dipanggil Sang Khalik karena kanker hati yang diderita.

"Musibah itu datang waktu saya mengambil beasiswa S-2 di Sydney, Australia. Padahal, sebelumnya, bapak tak pernah mengeluh sakit," ungkap wanita kelahiran 29 Januari 1944 tersebut.

Saat itu, pernikahan mereka memasuki usia delapan tahun dan mereka telah dikaruniai tiga anak yang masih kecil-kecil. Saat itu, belum satu pun anak keluarga dosen tersebut bersekolah.

Lubna tak bisa melupakan betapa baik hati suaminya. "Kalau saya marah, dia malah membalas dengan guyonan yang membuat saya tersenyum," ujar wanita mungil berkacamata plus itu.

Siapa menduga sergapan kanker hati telah merenggut kehidupan dosen Fakultas Ilmu Sosial IKIP Surabaya (kini Unesa) tersebut. "Saya heran sama bapak (panggilan Lubna buat Sefa, Red). Bapak bukan mengeluhkan sakitnya, tapi malah menanyakan kabar saya dan Jusuf," demikian yang ditulis wanita yang gemar membaca buku seni tersebut di halaman 60 bukunya yang berjudul A Long Journey of A Single Parent Teacher.

Sontak, setelah ditinggal suami, kehidupan Lubna berubah drastis. Semangat hidupnya sempat drop. Bahkan, studinya di Australia hampir ditinggalkan. "Tapi, ibu saya tak henti-henti mendukung saya untuk menyelesaikan studi," katanya.

Seolah mendapat suntikan energi, Lubna melanjutkan kuliah ditemani Jusuf. Malahan, begitu lulus, dia langsung ditawari melanjutkan program PhD (doktor) oleh pembimbingnya. "Tapi, saya tidak mengambilnya karena Jusuf harus masuk SD," jelasnya.

Sepulang dari Australia, Lubna pun harus secepatnya menyesuaikan dengan keadaan yang berbeda. Sebab, di rumah kini tak ada lagi suami yang setiap saat mendampingi.

"Setiap manusia punya batas limit masing-masing. Tapi, saya harus menaikkan batas itu dengan berperan ganda, menjadi sosok ibu dan ayah sekaligus bagi ketiga anak saya," ungkapnya menerawang.

Sampai kini, Lubna tetap berkomitmen untuk menjaga titipan Tuhan itu dengan tidak mencari pengganti ayah mereka. "Saya sudah mendapat suami terbaik dan kini bisa hidup bahagia bersama anak-anak saya," ujarnya.

Mendampingi Jusuf, Sofia, dan Nouval tumbuh dewasa memang menjadi tantangan berat bagi Lubna seorang diri. Tapi, dia tak ingin menitikkan air mata setetes pun di depan anak-anak.

Apalagi, usia ketiga anaknya kala itu masih kecil-kecil dan memiliki karakter berbeda-beda. Si sulung Jusuf pendiam tapi penuh kejutan. Sofia, satu-satunya anak perempuan, paling lengket pada ibunya. Si bungsu Nouval kerap memuji ketegaran ibunya.

"Saya mendidik anak dengan peran ganda, sebagai maskulin dan feminin. Tapi, saya tidak pernah main tangan. Paling banter hanya dengan kata-kata," jelas alumnus IKIP Negeri Malang (kini Universitas Negeri Malang) tersebut.

Wanita yang memang expert berbahasa Inggris dan linguistik itu ingin ketiga anaknya bisa fasih berbahasa asing. "Just it, tidak berarti mereka harus kebarat-baratan menggunakan percakapan sehari-hari dengan bahasa Inggris. Cukup cakap di akademik saja untuk masa depannya kelak," tegas wanita yang menyelesaikan master of arts di University of Sydney, Australia, tersebut.

Dalam buku setebal 141 halaman itu, Lubna juga mengungkapkan bahwa kejujuran merupakan prinsip hidupnya dalam membimbing anak-anak. Prinsip itu pun terpatri dalam diri ketiga anaknya. Mereka tidak berani berbohong dan dengan kesatria mengakui perbuatannya. "Sofia pernah memecahkan vas bunga. Ditemani kakaknya, dia berterus terang kepada saya," katanya.

Sikap jujur anak-anaknya tersebut membuat Lubna terharu sekaligus bahagia. "Saya juga berkali-kali meyakinkan bahwa seburuk apa pun kebenaran jangan ditutupi dengan kebohongan," tegas Lubna dalam salah satu uraian bukunya yang diluncurkan bersamaan perayaan ulang tahunnya ke-64, Selasa (29/1).

Dia pun tidak ingin menelantarkan kebutuhan hidup ketiga anaknya di tengah kesibukan mengajar dan aktivitas lain. Bagi Lubna, dapur merupakan istana. "Saya harus memasakkan makanan favorit mereka," ujarnya.

Bahkan, sampai anak-anaknya bekerja, dia tetap masak buat mereka. Nouval pun hingga kini tetap membawa bekal makan siang masakan ibunya ketika berangkat kerja.

Dalam hubungan sosial, banyak kolega yang bersimpati kepada dirinya karena ketegaran Lubna untuk terus melanjutkan hidup, meski tanpa pendamping. "Misalnya, saat menghadiri pernikahan, teman saya pasti menawari untuk datang dengan saya," katanya.

Tapi, lama-kelamaan, Lubna berpikir tidak ingin bergantung pada teman-temannya. Sejak itu, penyuka anggrek tersebut menolak ajakan teman-temannya. "Bukan berarti tidak mau datang, saya akan datang sendiri. Saya harus membiasakan. Sebab, kalau tidak, mungkin mengganggu teman saya yang punya pasangan masing-masing," tegas wanita yang aktif dalam Ikatan Alumni Australia Surabaya tersebut.

Mitos bahwa wanita cenderung cengeng coba dipatahkan Lubna. Apalagi untuk wanita single parent seperti dirinya. Wanita yang sudah menerjemahkan banyak buku tersebut mengaku tidak takut pada stigma single parent yang disandang. "Justru semua cobaan itu jadi motivasi buat saya," ujarnya antusias.

Pun demikian ketika keinginan ketiga anaknya agar Lubna bisa menjadi guru besar tidak terwujud. Dia tetap tegar. Tak heran, ketika perayaan ulang tahunnya ke-64, dia mendapat kado puisi dari stafnya yang berisi tentang ketegaran seorang wanita. Bait keduanya berbunyi, Lubna adalah wanita yang tidak pernah menangis. "Saya terharu mendengarnya," ungkapnya. (ari)

×