Tepat pukul 08.00 besok (hari ini, Red) warga ITS sudah mulai bisa memilih," kata Ir Sritomo Wignyosoebroto, wakil ketua panitia pilrek ITS. Suara akan dihitung pada 18 Oktober. Panitia berjanji keputusan sudah matang sekitar pukul 15.00. Lima peraih suara terbanyak berhak diajukan ke senat, kemudian disaring lagi menjadi tiga nama sebelum disodorkan ke presiden.
Dalam pemungutan suara hari ini, masing-masing jurusan mendapatkan satu kotak. Total, ada 28 kotak suara yang tersebar di ITS untuk ketiga elemen. Amplop dibagi tiga warna, yakni biru, hijau, dan kuning. Masing-masing untuk dosen, mahasiswa, serta karyawan.
Mulai sore kemarin, amplop-amplop suara sudah mulai dibagikan. Bagi warga ITS yang sedang belajar atau mengajar di luar negeri, suara bisa dikirimkan lewat surat elektronik atau faksimili.
Setiap orang berhak memberikan satu suara alias one man-one vote dengan bobot suara yang berbeda. Bobot suara dosen, karyawan, dan mahasiswa tidak sama. Ini mengacu terhadap jumlah ketiga elemen itu. Di ITS ada sekitar 950 dosen, seribu karyawan, serta 17 ribu mahasiswa.
Berapa bobot masing-masing? "Hari Rabu (besok, Red) senat baru akan membahas masalah konversi bobot suara masing-masing elemen," ujar Sritomo.
Pada periode lalu, seperti dikatakan ketua BEM Pusat ITS Detak Yan Pratama, bobot suara berlaku komposisi 1:3:5 untuk dosen, karyawan, dan mahasiswa. Maksudnya, satu suara dosen setara dengan tiga suara karyawan atau lima suara mahasiswa.
Mahasiswa sebenarnya meminta bobot suara yang setara. "Tapi, sepertinya tidak mungkin," lanjut Detak. BEM Pusat pada periode ini bertugas membagikan amplop suara kepada seluruh mahasiswa.
Yang boleh mengambil amplop suara hanya yang bisa menunjukkan identitas dan menandatangani berkas. Jadi, satu orang hanya akan mendapatkan satu amplop saja dan tidak boleh diwakilkan.
Memang, ada kemungkinan amplop milik mahasiswa A diisi oleh mahasiswa B. BEM berharap mahasiswa menghindari hal ini. "Mereka harus benar-benar mengetahui calon yang dia kenal," pinta Detak.
Untuk sementara ada tujuh ribu amplop yang disebar, dari yang seharusnya 17 ribu. "Sebab, berdasarkan pengalaman pemilih BEM, mahasiswa yang aktif memilih hanya sembilan ribu," jelas Detak.
Setiap pemilih harus mengisi identitas diri, seperti nama dan nomor induk atau pegawai. Keterangan tersebut lalu ditempel di luar amplop. Setelah itu, lembaran dalam amplop boleh diisi. "Cukup ditulis nama saja. Misalnya, Eko. Sudah, itu sah," jelas Sritomo.
Dalam kertas pilihan tidak dicantumkan nama-nama carek. Inilah yang mungkin harus "diwaspadai" para carek. Sebab, jika ingin nama mereka ditulis oleh mahasiswa, maka mereka harus benar-benar dikenal. "Padahal, banyak sekali mahasiswa yang bahkan tak tahu siapa-siapa calon rektornya," kata Detak.
Tujuh calon rektor (carek) ITS sudah menuntaskan tahap kampanye yang dibagi dalam dua gelombang. Empat carek yang tampil pada gelombang II kemarin adalah Dr Ir Djauhar Manfaat, MSc (Fakultas Teknik Perkapalan), Ir Eko Budi Djatmiko, MSc, PhD (Fakultas Teknik Kelautan), Prof Dr Ir Nadjadji Anwar, MSc (Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan), dan Prof Ir Priyo Suprobo, MS, PhD (Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan). Mereka memaparkan visi-misinya di hadapan dosen, karyawan, dan mahasiswa yang hadir di gedung rektorat lantai III.
Pada kampenye gelombang I, 4 Oktober lalu, tiga carek yang tampil adalah Ir I Ketut Aria Pria Utama MSc PhD, Prof Dr Ir Mohammad Nuh DEA, dan Prof Ir Paulus Indiyono MSc PhD. (ara)