Namun sayangnya, gerakan ini tidak dibarengi dengan langkah nyata penggunaan sumber daya untuk menunjang sivitas akademika di lingkungan ITS. Mereka sendiri sebenarnya membutuhkan sarana dan prasarana guna menunjang terlaksananya kegiatan tersebut.
Ambil saja contoh, seperti sarana jaringan instalasi listrik, telepon, maupun air bersih. Apalagi aktivitas mereka di lingkungan ITS sendiri juga menghasilkan limbah, baik limbah padat berupa sampah maupun limbah cair yang perlu adanya pengolahan.
Faktanya, jaringan instalasi listrik di ITS dibutuhkan untuk melayani kebutuhan akademik baik untuk pengajaran, penelitian, aktivitas perkantoran, maupun aktivitas-aktivitas penunjang lainnya.
Tahukah Anda? Dalam satu tahun, total konsumsi energi listrik di ITS sebesar 8.687.480 kWh/ tahun atau rata-rata 724.000kWh/ bulan. Sehingga, biaya yang harus dibayarkan ITS sendiri sebesar Rp 500 juta rupiah/ bulan atau 6 milyar rupiah/ tahun. Selain itu, konsumsi listrik ini juga menghasilkan gas buangan berupa emisi gas rumah kaca yang setelah dikalkulasi sekitar sebesar 3.650.000 kilogram CO2/ tahun.
Untuk instalasi air bersih, ITS membutuhkannya untuk akademik, seperti kegiatan laboratorium. Kegiatan penunjang akademik lainnya juga banyak membutuhkan air bersih. Dalam satu bulan, total biaya yang dibayarkan oleh ITS untuk air bersih sebesar 300 juta rupiah/ bulan atau sebesar 3,6 milyar rupiah/ tahun.
Sedangkan sampah yang dihasilkan dari aktivitas akademik maupun non akademik di ITS berkolerasi dengan sivitas akademika serta kegiatan yang ada di lingkungan ITS. Sampah yang dihasilkan oleh ITS sudah tertangani setara dengan 2 bak container sampah dengan kapasitas 6 meter kubik/ hari atau setara dengan 2.180 meter kubik/ tahun. Sedangkan sampah kertas di ITS yang dihasilkan oleh kegiatan akademik sekitar 150 kilogram/ hari atau setara dengan 4,5 ton/ bulan setara dengan menebang 106 pohon/ bulan.( 1 ton kertas setara dengan 24 pohon).
Sungguh ironis bahwa perguruan tinggi yang digembor – gemborkan sebagai salah satu perguruan tinggi yang berwawasan lingkungan atau sering disebut sebagai Eco Campus, mengabaikan penggunaan sumber daya demi menunjang kelancaran sivitas akademika di ITS. Setidaknya lewat data yang dituliskan di atas. Seharusnya, ITS sebagai perguruan tinggi yang menjadi panutan perguruan tinggi lain, khususnya mengenai konsep Eco Campus-nya, mampu mengontrol penggunaan sumber dayanya secara bijak.
Wahyu Tirta Nugraha
ITS Surabaya