Kemenangan?

Published on
By

Suatu bulan dimana cita masyarakat madani seperti berada di pelupuk mata. Seorang sosiolog menyebut fenomena ini sebagai revolusi kesalehan sosial. Tiba-tiba semua menjadi santri laduni. Lambung dibiarkan meronta, lidah diajarkan bersikap, mata dilarang melihat yang tersingkap, telinga tak ketinggalan untuk bersedekap, sampai tempramen pun tak diizinkan kalap. Paling susah adalah menyunat syahwat agar lebih taat. Ya, layaknya orang suci zaman klasik. Selama sebulan penuh manusia modern belajar berkontemplasi.

Pada hari-hari itu, surau-surau meraung-raung memuji kebesaran-Nya. Para penganjur agama bersemangat sambil mengacungkan jari, berbicara tentang rahmat, pengampunan, dan kebebasan atas api neraka. Sesekali mereka bercerita tentang indahnya amalan seribu bulan. Kemudian berlomba membungkukan punggung, mengencangkan ikat pinggang, dan berlama-lama meletakkan dahi pada selembar tikar.

Semua manusia larut dalam sahur on the road. Momen buka puasa bersama seakan menjadi life style berhukum fardhu ‘ain. Tentu kolak pisang jadi official partner pada ibadah kali ini. Sholat tarawih berdurasi satu setengah jam terasa enteng berjalan. Di malam buta pukul tiga, setiap mimpi manusia dihapus demi menjalankan ibadah sunah sahur. Sholat shubuh yang dikatakan terberat di antara sholat lainnya, mudah terlaksana, tidak pula sampai mendatangi masjid sambil merangkak-rangkak.

Ada yang aneh kah? Tidak juga. Harusnya kita (sejenak) bangga. Itu bukti kalau bangsa kita lebih baik secara spiritualitas dibanding negara skandinavia yang kebanyakan rakyatnya atheis atau minimal agnostik. Walaupun, kita harus mengingat-ingat pengalaman pahit menjadi negara terkorup di dunia. Sedangkan skandinavia, terlepas dari keacuhannya pada agama, justru menjadi negara paling bersih, jujur, dan teratur di dunia.

Pada titik ini saya berani menentang asumsi Marx. Agama bukanlah candu yang memabukkan dan merusak kinerja syaraf otak kita. Ia bukan pula bertindak sebagai majikan dimana penganutnya berarti seorang budak. Agama justru menjadi obat penawar dimana semua orang berduyun-duyun mendapatkannya. Ia dapat memecahkan penyakit kehidupan ketika masalah itu tak terselesaikan dengan cara-cara manusia apalagi logika matematika. Ketika agama tak mampu memberikan kebahagiaan pada manusia, berarti ada yang salah pada manusianya, bukan ajarannya.

***

Wajar saja saat itu orang seperti berolimpiade. Bagaimana tidak, ketika itu semua manusia bisa mencium wangi surga selagi pintunya dibuka. Bahkan setan saja bersedia menyerahkan diri ke penjara agar tidak mengganggu manusia. Segala peluang terjadinya kemaksiatan hampir dibuat kosong. Semua lampu di sebuah warung, tak lagi remang-remang karena listrik telah dicabut. Warung makan juga turut berpuasa menggaet pelanggan. Bahkan, kita dengan leluasa berenang dalam guyuran rohani dari banyak penganjur agama. Tak peduli TV, masjid agung, sampai langgar kecil di tengah hutan.

Mission accomplished! Sebulan berlalu, duyun-duyun manusia mengayun kaki menuju masjid. Seorang pemuda, Icak namanya, merenung persis di hadapan mimbar megah. Sang pengkhotbah berkali-kali beretorika tentang hari kemenangan. “Hari ini, manusia terlahir suci seperti bayi,” kata sang ustad. Icak bertanya-tanya di hari dimana semua orang berbaju baru itu. “Semudah itu kah?”.

Kalau diulas lagi bagaimana Icak menjalankan ibadah Ramadan, tidaklah istimewa. Ia hanya duduk manis di kantor sembari terhibur sejuknya pendingin ruang. Jam kerja dipangkas habis, bahkan sebelum waktunya, Icak bebas pulang ke rumah. Alasannya, menyiapkan buka puasa. Klasik memang.

Lumuran dosa berbulan-bulan hanya ditebus sebulan. Dengan percaya diri, kita berpikir telah meraih malam seribu bulan. Padahal untuk berdiam di masjid saja rasanya pantat seperti di atas tungku. Bagaimanakah dengan tukang bangunan atau pengayuh becak yang menahan terik dan dahaga? Samakah pahalanya dengan Icak yang kemana-mana naik mobil bersuspensi lembut itu? Icak berpikir dalam, menyangsikan perkataan khotib tentang kemurnian dirinya selepas Ramadan.

Hari-hari pertama bulan Syawal. Rasanya luar biasa berat untuk sadar akan malam buta pukul tiga. Setan beroleh grasi dan kembali pada tugasnya. Gerombolan tuyul hadir mengikat leher kita sambil membisiki,”Tenang saja, malam masih lama,”. Sholat malam tak ada lagi dalam kamus kita. Bahkan untuk bangun shubuh pun kita bersusah payah menggeliat seperti penderita epilepsi. Puasa? Bukankah air isotonik di tengah panasnya Surabaya jauh lebih nikmat ketimbang menyeruput kolak pisang di penghujung matahari terbenam?

***

Pada akhirnya dunia kembali pada orbit semula. Pembicaraan tentang langit ketujuh tak lagi meriah. Setiap manusia kembali memasang topengnya, menjadi bentuk sebenar-benarnya dusta. Ironis? Ya begitulah pembuktian sebuah prediksi,“Banyak manusia yang berpuasa hanya mendapat lapar dahaga,”. Mungkin bukan hanya lapar dahaga, kita juga mendapat apa yang disebut tidur pulas tanpa batasan masa. Kontraproduktif.

Ba’da Ramadan. Ketika gerai panti pijat akhirnya dibuka kembali. Saat sebotol topi miring hadir sebagai solusi. Bahkan di kala genggaman kitab suci berganti kartu remi. Tunggu setahun lagi, ya setahun lagi, revolusi temporal berkoar masalah surga dan neraka. Nikmat iman hanyalah sebuah sambilan belaka, di tengah-tengah Ramadan dengan segala euforianya.

Pada detik ini, engganlah saya mengucap pada anda “Selamat Hari Raya!”. Apa pula guna gincu pemanis bibir ataukah hanya selembar kartu yang terselip di balik parsel, formalisasikah? Ah, apanya yang perlu diselamati? wong saat ini kita tidak memenangi suatu ujian apapun, apalagi merayakannya. Ramadan bukanlah sebuah peperangan maha dahsyat. Justru, 11 bulan setelah inilah yang menjadi pertempuran sebenarnya. Siapkah kita?
 

Setiap habis Ramadhan
Hamba rindu lagi Ramadhan
Saat-saat padat beribadah
Tak terhingga nilai mahalnya
“Setiap Habis Ramadhan” Bimbo

Bahtiar Rifai Septiansyah
Mahasiswa Teknik Perkapalan

×